JAKARTA — Ancaman bencana berlapis membayangi Indonesia timur setelah gempa bumi magnitudo 7,6 mengguncang perairan Laut Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026).
Para ahli memperingatkan, gempa jenis ini merupakan bagian dari sistem megathrust yang berpotensi memicu tsunami.
Pakar geologi dari BMKG, Daryono, menegaskan bahwa gempa tersebut tergolong sesar naik (thrust fault), yang muncul akibat tekanan kuat antar lempeng tektonik di kawasan Laut Maluku—salah satu zona paling kompleks di dunia.
Menurutnya, wilayah ini berada dalam sistem double subduction atau penunjaman ganda, di mana Lempeng Laut Maluku “terjepit” oleh dua busur aktif: Busur Sangihe di barat dan Busur Halmahera di timur. Kondisi ini menciptakan akumulasi energi tektonik yang sangat besar.
“Tekanan kompresi yang intens ini menghasilkan gempa dengan mekanisme sesar naik yang kuat dan berulang,” ujar Daryono.
Secara ilmiah, gempa jenis ini terjadi ketika satu blok batuan terdorong naik di atas blok lainnya akibat tekanan horizontal.
Di Laut Maluku, fenomena ini tidak hanya terjadi di batas lempeng (megathrust), tetapi juga di dalam lempeng yang tersubduksi.
Alarm Tsunami: Ancaman Nyata dari Dasar Laut
Yang paling mengkhawatirkan, gempa thrust seperti ini memiliki kemampuan mengangkat dasar laut secara vertikal—faktor utama pemicu tsunami.
Daryono menjelaskan, jika gempa terjadi pada kedalaman dangkal dengan pergeseran besar, maka energi yang dilepaskan bisa langsung memindahkan massa air laut dalam jumlah besar.
Fakta ini diperkuat dengan sempat terdeteksinya gelombang tsunami sesaat setelah gempa, meskipun tidak berkembang menjadi gelombang besar.
Dampak di Lapangan: Rumah Rusak, Warga Panik
Di Ternate, Maluku Utara, gempa ini menyebabkan kerusakan signifikan. Data sementara BPBD mencatat: 46 rumah rusak berat, 42 rumah rusak ringan, 5 bangunan gereja rusak sedang hingga berat.
Warga di sejumlah wilayah terdampak dilaporkan panik dan berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi.
Mitigasi Jadi Kunci di Zona Rawan
Para ahli menekankan bahwa pemahaman terhadap karakter gempa di Laut Maluku sangat penting untuk memperkuat sistem mitigasi bencana, terutama di wilayah Indonesia timur yang berada di jalur cincin api Pasifik.
Gempa megathrust bukan hanya ancaman sesaat, tetapi bagian dari siklus geologi panjang yang bisa kembali terjadi kapan saja.
Sebagai catatan, gempa M 7,6 di Laut Bitung bukan peristiwa biasa. Di baliknya, tersimpan potensi besar yang bisa memicu tsunami sewaktu-waktu. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk menghadapi ancaman nyata dari perut bumi ini.
BMKG Catat 422 Gempa Susulan
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 422 gempa bumi susulan usai gempa bumi di Bitung, Sulawesi Utara (Sulut). Gempa paling kuat terjadi dengan kekuatan magnitudo (M) 5,8.
“Hingga pukul 08.00 WIB (3 April 2026), total gempa bumi susulan yang tercatat mencapai 422 gempa bumi dengan magnitudo terbesar M 5,8 dan terkecil M 1,7,” kata Plt Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Rahmat Triyono, Jumat (3/4/2026).
Menurut Rahmat, gempa terakhir terjadi pada pukul 08.44 WIB di wilayah Maluku Utara. Gempa tersebut berkekuatan M 5,2 dan tidak berpotensi tsunami.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,02° LU; 126,50° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 100 km arah barat laut Ternate, Maluku Utara. Titik gempa ada pada kedalaman 13 km.
“Berdasarkan estimasi peta guncangan, gempa bumi ini menimbulkan guncangan di daerah Pulau Batang Dua, Kota Ternate, dengan skala intensitas III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan truk berlalu),” ucap Rahmat Triyono.
Gempa Bitung Sempat Picu Tsunami
BMKG menyebut gempa ini berpotensi tsunami di wilayah Malut dan Sulawesi Utara (Sulut). BMKG mencatat adanya gelombang tsunami di dua wilayah.
Tsunami di Halmahera Barat setinggi 0,3 meter. Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya tsunami 0,2 meter di Bitung pada pukul 07.15 Wita. Meskipun relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih bisa terjadi.
“Gempa bumi ini berpotensi tsunami di wilayah Kota Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, dengan status siaga dengan ketinggian tsunami 0,5 hingga 3 meter,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam jumpa pers virtual, Kamis (2/4).
Namun data terkini BMKG telah mencabut peringatan dini tsunami.
“Peringatan dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa Mag: 7,6, lokasi: 129 km Tenggara BITUNG-SULUT, waktu: 02-Apr-26 05:48:16 WIB, dinyatakan telah berakhir,” tulis BMKG. (TR Network)

Komentar