JAKARTA — Planet Bumi kian memanas, dan fenomena kali ini bukan siklus alam biasa.
World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan bahwa Bumi kini menyerap lebih banyak panas daripada yang mampu dilepaskannya kembali ke luar angkasa—sebuah kondisi berbahaya yang membuka peluang pecahnya rekor suhu global dalam waktu dekat.
Fenomena ini dipicu oleh akumulasi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, yang bertindak seperti “selimut raksasa” di atmosfer. Panas dari Matahari terperangkap, tidak bisa keluar, dan terus menumpuk dari tahun ke tahun.
WMO mencatat ketidakseimbangan energi Bumi telah mencapai level tertinggi. Artinya, energi yang masuk jauh lebih besar dibandingkan yang dipantulkan kembali.
Dampaknya mulai terlihat jelas: lautan menghangat, es kutub mencair, dan pola iklim global berubah semakin ekstrem.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut kondisi ini sebagai tanda bahwa planet ini sedang didorong keluar dari batas aman.
Ia menegaskan, hampir semua indikator utama perubahan iklim kini menunjukkan tren memburuk.
Dalam laporan WMO, 11 tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas sejak 1850.
Pada 2025, suhu global bahkan telah mencapai sekitar 1,43°C di atas masa pra-industri, mendekati ambang batas kritis yang ditetapkan komunitas internasional.
Fenomena La Niña sempat menahan laju pemanasan, namun tidak cukup untuk menghentikan tren.
Sebaliknya, kemunculan El Niño berikutnya justru diperkirakan akan memperparah kondisi, mendorong suhu global ke rekor baru hingga 2027.
Lebih dari 90 persen panas berlebih kini diserap oleh lautan. Akibatnya, ekosistem laut terancam, badai menjadi lebih intens, dan permukaan air laut terus naik. Bahkan, suhu laut hingga kedalaman 2.000 meter telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah pengamatan.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama krisis ini.
Konsentrasi karbon dioksida saat ini berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua juta tahun—memastikan tren pemanasan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
“Dampaknya sudah terasa di berbagai belahan dunia. Gelombang panas ekstrem semakin sering terjadi, cuaca makin tidak menentu, dan risiko penyakit meningkat. Di beberapa wilayah, suhu bahkan melampaui 40°C—angka yang sebelumnya jarang terjadi,” jelasnya dikutip Minggu (5/4/2026).
WMO memperkirakan El Niño berpotensi muncul pada paruh kedua 2026. Jika itu terjadi, dunia bukan hanya akan semakin panas, tetapi juga semakin dekat ke titik krisis iklim yang sulit dikendalikan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Bumi memanas, tetapi seberapa cepat kita bisa menghentikannya. (TR Network)

Komentar