Iklim
Beranda / Iklim / Mewaspadai Hari-hari Terakhir Gletser Asia

Mewaspadai Hari-hari Terakhir Gletser Asia

Citra satelit NASA mengungkapkan, sistem gletser raksasa di Dataran Tinggi Tibet dan wilayah sekitarnya mengalami kehilangan cadangan es secara signifikan dalam rentang 2002 hingga 2023. File NASA

JAKARTA – Dunia tengah berada di ambang krisis air global yang kian nyata.

Gletser di kawasan Pegunungan Tinggi Asia—yang selama ini dikenal sebagai “menara air dunia”—terus menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menandai fase kritis yang bisa menjadi awal dari hilangnya sumber air bagi miliaran manusia.

Studi terbaru berbasis data satelit NASA mengungkapkan, sistem gletser raksasa di Dataran Tinggi Tibet dan wilayah sekitarnya mengalami kehilangan cadangan es secara signifikan dalam rentang 2002 hingga 2023.

Fenomena ini menjadi alarm keras dari krisis iklim yang semakin tak terkendali.

Dalam jangka pendek, pencairan gletser justru meningkatkan ancaman bencana, terutama banjir akibat meluapnya danau-danau yang terbentuk dari es yang mencair.

Indonesia–PBB Gelontorkan Dana Besar untuk Petani

Namun dalam jangka panjang, ancaman yang jauh lebih besar mengintai: menyusutnya pasokan air bersih yang menjadi tumpuan kehidupan.

Masyarakat di kawasan Asia sangat bergantung pada air lelehan gletser untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi pertanian, hingga kebutuhan domestik.

Ketika gletser terus menghilang, maka ketahanan pangan, energi, dan stabilitas sosial ikut berada dalam risiko serius.

Ketua peneliti, Jaydeo Dharpure, menegaskan bahwa setiap perubahan pada ukuran gletser akan berdampak langsung terhadap keamanan air, pertanian, dan mitigasi bencana.

Ia menyebut, meskipun sebagian pencairan tidak dapat dihindari, kemampuan memantau perkembangan gletser secara akurat menjadi hal yang krusial.

243 Perusahaan di Indonesia Sabet PROPER Hijau, Berikut Daftarnya

Saat ini, terdapat lebih dari 95.000 gletser yang tersebar di 15 wilayah Pegunungan Tinggi Asia.

Untuk mengukur tingkat kehilangan es, para ilmuwan menggunakan pendekatan canggih dengan menganalisis perubahan gaya gravitasi bumi, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) guna mengisi kekosongan data pemantauan jangka panjang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pencairan tidak merata. Beberapa wilayah seperti Kunlun Timur justru mengalami peningkatan massa es, sementara kawasan lain seperti Tien Shan Barat mengalami penyusutan drastis.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara kenaikan suhu global, perubahan pola hujan, dan radiasi matahari.

Meski sulit diteliti secara menyeluruh, sistem gletser Asia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Darurat Ekosistem: Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

Kehilangannya berpotensi memicu dampak luas, tidak hanya di kawasan Asia tetapi juga secara global.

Para ilmuwan memperingatkan, jika tren ini terus berlanjut, dunia akan menghadapi skenario paling buruk: krisis air besar-besaran disertai munculnya danau dan aliran sungai baru yang belum terpetakan.

Kondisi ini membuka potensi bencana yang lebih kompleks dan sulit diprediksi.

“Jika gletser ini hilang, masyarakat tidak hanya kehilangan sumber air minum dan irigasi, tetapi juga akan menghadapi ancaman dari sistem air baru yang tidak stabil,” ujar Dharpure dilansir dari Phys, Rabu (8/4/2026).

Karena itu, pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi langkah mendesak yang tidak bisa ditunda.

Tanpa intervensi serius, pencairan gletser akan terus melaju, membawa dunia menuju krisis kemanusiaan berskala besar.

Hari-hari terakhir gletser Asia mungkin telah dimulai—dan dunia belum sepenuhnya siap menghadapinya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *