ROMA – Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) mengungkap temuan mengejutkan: limbah dan kehilangan pangan (food loss and waste/FLW) berpotensi menjadi reservoir sekaligus akselerator penyebaran resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).
Ancaman ini dinilai kian serius karena sebagian besar limbah pangan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau pembuangan terbuka yang memperbesar risiko penyebaran gen kebal antibiotik.
Temuan tersebut dipaparkan dalam tinjauan ilmiah terbaru berjudul “Risk of antimicrobial resistance spreading via food loss and waste” yang diterbitkan di jurnal Infectious Diseases of Poverty. Kajian ini dipimpin oleh empat pakar FAO, termasuk Junxia Song, yang kini menjabat sebagai Kepala One Health and Disease Control Branch FAO.
Menurut para ahli, limbah makanan merupakan media ideal bagi pertumbuhan bakteri dan memungkinkan mikroba serta gen resisten antibiotik bertahan hidup, bahkan berkembang.
Sampel limbah dapur dari sekolah dan rumah sakit menunjukkan kandungan gen resisten terhadap berbagai jenis antibiotik—termasuk obat generasi baru.
Limbah Pangan Lebih “Berbahaya” dari Lumpur Tinja?
Beberapa studi menemukan bahwa kelimpahan gen resisten dalam limbah pangan bahkan lebih tinggi dibanding lumpur limbah atau kotoran ternak babi—yang selama ini dikenal sebagai sumber utama penyebaran AMR di lingkungan.
Kondisi ini menjadi alarm keras, terutama ketika banyak negara mendorong program pemanfaatan limbah pangan untuk energi terbarukan atau bahan pakan.
Limbah pangan berbasis hewani—terutama limbah ikan—tercatat memiliki tingkat resistensi gen lebih tinggi dibandingkan limbah nabati. Artinya, sistem pengumpulan dan pengolahan limbah pangan yang cepat dan terkendali menjadi sangat krusial.
Kompos dan Biogas: Solusi atau Risiko Baru?
Praktik pengomposan memang ramah lingkungan, namun dalam kondisi tertentu justru dapat meningkatkan prevalensi gen resisten jika tidak dikelola optimal. Proses bersuhu tinggi dan pengolahan siklus penuh dinilai penting untuk menekan risiko tersebut.
Sementara itu, teknologi anaerobic digestion—yang menjadi tulang punggung produksi biogas—memiliki potensi mengurangi AMR, tetapi masih membutuhkan riset lanjutan untuk memastikan efektivitasnya.
Yang paling mengkhawatirkan, sebagian besar limbah pangan global tetap berakhir di TPA. Campuran limbah biologis dengan residu kimia industri, pertanian, dan medis memperbesar risiko penyebaran gen resisten, apalagi jika lokasi tersebut terbuka bagi hewan pemakan bangkai atau mencemari air tanah dan permukaan.
Sektor Pertanian dan Tantangan Global AMR
Sektor pertanian telah lama diketahui berkontribusi pada AMR, dengan produksi hewan menyumbang hampir tiga perempat penjualan antibiotik global. Residu obat dan gen resistensi ditemukan pada produk daging maupun sayuran seperti wortel, selada, dan tomat.
AMR sendiri telah dikaitkan dengan jutaan kematian manusia setiap tahun karena menurunkan efektivitas obat yang ada.
FAO menegaskan, pengurangan kebutuhan penggunaan antibiotik di sepanjang rantai pangan adalah kunci utama.
Melalui pendekatan One Health, FAO mendorong kolaborasi lintas sektor—kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan—untuk menekan risiko AMR secara holistik.
Platform InFARM disiapkan sebagai sistem global untuk mengumpulkan dan menyintesis data AMR di tingkat negara, sementara inisiatif RENOFARM membantu negara-negara mengurangi ketergantungan pada antimikroba.
Negara Berkembang Jadi Titik Kritis
Laporan ini menyoroti perlunya data lebih luas dari negara berpendapatan rendah dan menengah, di mana regulasi penggunaan antibiotik masih lemah dan diproyeksikan meningkat. Penelitian terkait resistensi antijamur juga dinilai mendesak untuk diperluas.
Pesan FAO tegas: keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Tanpa pengelolaan limbah pangan yang lebih baik, dunia bukan hanya membuang makanan—tetapi juga sedang menyuburkan krisis resistensi antibiotik yang dapat mengancam keselamatan jutaan jiwa. (TR Network)
