TEHERAN – Perang yang terus berkecamuk di Timur Tengah kini memicu ancaman baru: “hujan beracun” yang menyelimuti wilayah terdampak setelah serangan terhadap depot minyak di Teheran, Iran.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa dampak lingkungan dan kesehatan dari serangan tersebut berpotensi meluas ke kawasan regional, sementara ratusan ribu orang terpaksa mengungsi dan rantai pasokan bantuan kemanusiaan terganggu.
Peringatan ini muncul setelah 10 hari konflik bersenjata yang melibatkan serangan udara terhadap infrastruktur energi, memicu pelepasan polutan beracun ke atmosfer.
Serangan Depot Minyak dan Ancaman “Hujan Hitam”
Juru bicara Kantor HAM PBB, Ravina Shamdasani, menyampaikan kekhawatiran serius terkait dampak kesehatan dan lingkungan dari serangan udara Israel dan Amerika Serikat terhadap depot minyak di Teheran.
Menurutnya, polusi udara yang muncul akibat serangan tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional, khususnya prinsip proporsionalitas dan kehati-hatian dalam operasi militer.
Ia menekankan bahwa fasilitas yang diserang tidak tampak digunakan secara eksklusif untuk tujuan militer, sehingga menimbulkan risiko besar bagi warga sipil dan lingkungan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi fenomena yang kini dilaporkan warga sebagai “black rain” atau hujan hitam serta hujan asam yang turun di beberapa wilayah Teheran.
Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan hujan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
“Hujan hitam dan hujan asam yang turun setelah serangan memang merupakan bahaya nyata,” katanya, Selasa (10/3/2026).
Otoritas Iran bahkan telah mengeluarkan peringatan resmi kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah setelah serangan terhadap gudang penyimpanan minyak.
WHO saat ini memantau pelepasan besar-besaran hidrokarbon beracun, sulfur oksida, dan senyawa nitrogen ke udara yang dapat memicu penyakit pernapasan serta mencemari sumber air.
Kekhawatiran meningkat karena serangan lanjutan terhadap infrastruktur minyak di Bahrain dan Arab Saudi berpotensi memperluas dampak polusi lintas negara.
Gelombang Pengungsi di Lebanon
Dampak perang juga terasa kuat di Lebanon. Serangan udara Israel dan perintah evakuasi dalam 24 jam terakhir telah memaksa lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah mereka, sehingga total pengungsi akibat konflik ini mendekati 700.000 orang.
Perwakilan Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Lebanon, Karolina Lindholm Billing, menyebut laju pengungsian kali ini bahkan lebih cepat dibanding konflik besar pada 2024.
Banyak warga melarikan diri dengan tergesa-gesa tanpa membawa barang berharga.
“Kami melihat mobil-mobil berjejer di jalan dengan orang-orang tidur di dalamnya,” ujarnya.
Sebagian besar pengungsi kini mencari perlindungan di Beirut, wilayah Gunung Lebanon, Lebanon utara, dan Lembah Bekaa.
Billing menceritakan kisah seorang perempuan berusia lebih dari 90 tahun yang ditemuinya di sebuah tempat penampungan di Beirut.
Perempuan tersebut kehilangan 11 anggota keluarganya pada konflik 2024 dan kini kembali mengungsi di sekolah yang sama yang dijadikan tempat perlindungan dua tahun lalu.
Kisah itu menggambarkan trauma berulang dan ketidakpastian yang kini dialami ratusan ribu warga sipil.
Eksodus Warga Afghanistan dari Iran
Konflik Timur Tengah juga memicu dampak tidak langsung bagi warga Afghanistan yang tinggal di Iran.
UNHCR melaporkan sekitar 110.000 warga Afghanistan telah kembali ke negaranya sejak awal tahun, dengan sekitar 1.700 orang menyeberang setiap hari sejak perang meletus.
Perwakilan UNICEF di Afghanistan, Tajudeen Oyewale, mengatakan arus kepulangan meningkat tajam di perbatasan Islam Qala di Provinsi Herat.
Masalah baru pun muncul: meningkatnya malnutrisi pada anak-anak.
Dalam satu minggu terakhir saja, jumlah anak yang diperiksa dan dirawat karena kekurangan gizi melonjak dua kali lipat.
Jalur Logistik Dunia Terguncang
Perang juga mulai mengganggu rantai pasokan bantuan kemanusiaan global.
Menurut Oyewale, ketegangan geopolitik menyebabkan rute pengadaan logistik menjadi terganggu.
Akibatnya, bantuan penting bagi anak-anak dan ibu yang terdampak krisis berisiko tiba lebih lambat dan dengan biaya lebih mahal.
Direktur Analisis Pangan Program Pangan Dunia (WFP), Jean-Martin Bauer, memperingatkan bahwa konflik di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb mengancam dua titik kritis jalur perdagangan global.
Perusahaan pelayaran kini mulai mengalihkan rute kapal untuk menghindari wilayah berisiko.
Biaya Pengiriman Melonjak
Perubahan jalur pelayaran membawa konsekuensi besar bagi operasi bantuan kemanusiaan.
Asuransi risiko perang untuk setiap kontainer kini mencapai 2.000 hingga 4.000 dolar AS di wilayah berisiko tinggi.
Selain itu, kapal harus mengambil jalur memutar melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) untuk mencapai beberapa wilayah operasi kemanusiaan.
Contohnya, pengiriman makanan untuk operasi WFP di Sudan yang sebelumnya melewati Oman dan Arab Saudi kini harus dialihkan melalui Tangier.
Perubahan rute ini menambah sekitar 25 hari waktu pengiriman dan perjalanan laut tambahan sejauh 9.000 kilometer.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana konflik bersenjata tidak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga bencana lingkungan dan gangguan ekonomi global yang dampaknya menjalar jauh melampaui medan perang. (TR Network)
