JAKARTA — Langkah besar Indonesia menuju era bahan bakar ramah lingkungan mulai dipercepat.
PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) resmi menggandeng lembaga asal Amerika Serikat, US Grains & BioProducts Council (USGBC), untuk mengembangkan bioetanol dan membuka jalan implementasi bahan bakar campuran etanol E10 di Indonesia.
Di balik kolaborasi ini tersimpan ambisi besar: membangun ekosistem bioetanol nasional yang kuat, dari hulu hingga hilir, sekaligus memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak global.
Pertamina NRE dan USGBC akan fokus pada studi bersama, pertukaran pengetahuan, hingga peningkatan kapasitas teknis guna mempercepat adopsi praktik terbaik global.
Langkah ini juga mencakup penguatan rantai pasok, kesiapan infrastruktur, serta dukungan regulasi untuk implementasi E10 di dalam negeri.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menegaskan bioetanol menjadi titik temu strategis antara ketahanan energi dan agenda keberlanjutan.
Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari pengalaman global, terutama dalam diversifikasi bahan baku dan penerapan bahan bakar campuran etanol.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, melihat kerja sama ini sebagai akselerator penting dalam transisi energi.
Melalui transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas institusional, Pertamina optimistis mampu membangun ekosistem bioetanol yang adaptif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Chairman USGBC, Mark Wilson, menekankan bahwa kemitraan ini bukan sekadar formalitas, melainkan platform implementasi nyata.
Fokus utama diarahkan pada penguatan produksi, rantai pasok, serta kesiapan pasar bioetanol di Indonesia.
Tak hanya aspek teknis, kerja sama ini juga menyasar pengembangan pasar dan strategi komunikasi publik guna mendorong penerimaan bahan bakar berbasis etanol di masyarakat.
Dengan demikian, bioetanol tidak hanya menjadi solusi energi, tetapi juga bagian dari transformasi ekonomi hijau nasional.
Kesepakatan ini menandai babak baru kolaborasi internasional di sektor energi terbarukan. Jika berhasil, implementasi E10 berpotensi menjadi tonggak penting dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi karbon Indonesia. (TR Network)

Komentar