JAKARTA – Perubahan iklim kini tidak hanya menjadi ancaman lingkungan, tetapi telah menjelma menjadi krisis sosial yang menggerus masa depan pertanian global.
Penelitian terbaru mengungkap fakta mencemaskan: semakin banyak petani padi yang tidak lagi ingin anak-anak mereka meneruskan profesi bertani.
Fenomena ini menandai satu titik kritis—regenerasi petani mulai terputus.
Petani Kehilangan Harapan
Survei yang dilakukan Mars bersama 60 Decibels terhadap 1.613 petani di India, Pakistan, dan Thailand menunjukkan mayoritas petani merasa bertani tidak lagi menjanjikan.
Di India, sekitar 70 persen petani menyatakan profesi ini tidak layak untuk generasi berikutnya. Di Pakistan, angkanya mencapai 63 persen.
Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem yang makin tak menentu—banjir, kekeringan, hingga perubahan musim yang merusak siklus tanam dan panen.
Produksi Menurun, Risiko Global Meningkat
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa sejak 1980, hasil panen padi global terus tergerus. Rata-rata penurunan mencapai 4,3 persen per tahun, setara dengan hilangnya sekitar 18 juta ton beras setiap tahun.
Padahal, beras adalah makanan pokok bagi lebih dari setengah populasi dunia.
Dampak Domino ke Seluruh Dunia
Krisis ini tidak berhenti di tingkat petani. India dan Pakistan merupakan eksportir utama beras dunia—masing-masing menyumbang sekitar 40 persen dan 8 persen pasar global.
Jika produksi di kedua negara ini terus terganggu, maka negara-negara yang bergantung pada impor, seperti Inggris, akan ikut terdampak.
Ironisnya, kesadaran publik global masih rendah. Banyak konsumen belum memahami bahwa perubahan iklim dapat langsung memukul pasokan pangan dunia.
Krisis yang Sedang Terjadi
Regenerasi petani yang terhenti berarti masa depan produksi pangan berada di ujung tanduk. Tanpa generasi penerus: Lahan pertanian berisiko ditinggalkan, Produksi pangan menurun drastis, Harga beras berpotensi melonjak.
Peran Pemerintah Jadi Penentu
Sebagian besar responden menilai pemerintah dan pembuat kebijakan harus mengambil peran lebih besar dalam:
– Mendorong pertanian berkelanjutan
– Melindungi petani dari dampak iklim
– Menjamin insentif ekonomi bagi generasi muda
Fakta ini menegaskan bahwa perubahan iklim telah mengubah pertanian dari sumber kehidupan menjadi sektor penuh ketidakpastian.
Ketika petani mulai menyerah dan anak-anak mereka enggan melanjutkan, dunia menghadapi ancaman nyata: krisis pangan akibat putusnya regenerasi petani.
Jika tidak ada langkah konkret, sawah-sawah bisa tetap ada—tetapi tanpa petani yang menggarapnya. (TR Network)

Komentar