Forum
Beranda / Forum / Perubahan Iklim Percepat Krisis Pesisir Asia Tenggara

Perubahan Iklim Percepat Krisis Pesisir Asia Tenggara

Peta Asia Tenggara. Arsip

JAKARTA – Ancaman perubahan iklim kini semakin mempercepat krisis lingkungan di kawasan pesisir Asia Tenggara.

Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh dinamika alam, tetapi juga oleh aktivitas manusia seperti reklamasi, pembangunan kanal, dan perubahan tata ruang pesisir yang berlangsung selama berabad-abad.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam kuliah umum bertajuk “The Clam, the Mud, and the Girl: A History of Land Reclamation in Maritime Southeast Asia” yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Forum ilmiah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi riset antara BRIN dan University of California, Santa Cruz, sekaligus membuka diskusi mengenai perubahan lanskap pesisir di Asia Tenggara maritim.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Muhammad Najib Azca, menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini semakin kompleks dan tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu disiplin ilmu.

Ambisi Uni Eropa Pangkas Emisi 90 Persen, Industri Dipaksa Berubah Total

“Banyak persoalan yang kita hadapi hari ini—baik di tingkat lokal maupun global—tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu disiplin ilmu. Karena itu, pendekatan multidisipliner menjadi sangat penting dalam memahami dinamika sosial dan lingkungan,” ujar Najib saat membuka acara di Ballroom Lt. 2 Gedung Widya Graha BRIN, Gatot Subroto, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan bahwa BRIN memiliki potensi besar untuk mengembangkan kolaborasi lintas bidang.

Dengan lebih dari tujuh ribu peneliti dari berbagai disiplin ilmu, lembaga riset nasional ini terus mendorong pengembangan platform penelitian yang mempertemukan perspektif ilmu alam, teknologi, serta ilmu sosial dan humaniora.

Dalam kuliah tersebut, antropolog lingkungan Anna Lowenhaupt Tsing mengajak peserta melihat sejarah pesisir Asia Tenggara dari perspektif yang lebih luas.

Menurutnya, perubahan lanskap pesisir di kawasan ini bukan hanya dipengaruhi oleh pembangunan modern, tetapi juga merupakan hasil interaksi panjang antara proses ekologis dan aktivitas manusia selama ribuan tahun.

Bencana Banjir Lahar Merapi: 3 Warga Tewas, 2 Masih Hilang

Ia menjelaskan bahwa wilayah pesisir Asia Tenggara memiliki karakter yang sangat dinamis karena batas antara daratan dan perairan selalu berubah akibat proses alam seperti pasang surut dan sedimentasi.

“Dalam ekosistem pesisir Asia Tenggara, tanah dan air tidak pernah benar-benar terpisah. Keduanya selalu berinteraksi dan saling membentuk lanskap yang terus berubah,” jelas Anna.

Melalui pendekatan antropologi lingkungan, Anna memperkenalkan konsep “lumpur pesisir” sebagai cara memahami hubungan antara ekologi, sejarah, dan praktik pembangunan.

Dalam pandangannya, lumpur tidak hanya kondisi geografis semata, tetapi ruang pertemuan berbagai proses alam dan aktivitas manusia yang membentuk sejarah wilayah pesisir.

Ia juga menyoroti bagaimana proyek pembangunan modern kerap berupaya memisahkan daratan dan laut melalui pembangunan kanal, tanggul, maupun reklamasi. Namun, dalam praktiknya ekologi pesisir sering merespons secara tidak terduga.

Topan Pembunuh “Melissa” Dihapus dari Sejarah, Kenapa?

“Ketika kita mencoba sepenuhnya mengendalikan alam, sering kali justru muncul persoalan baru—mulai dari sedimentasi, banjir, hingga perubahan ekosistem yang sulit diprediksi,” ujarnya.

Anna menambahkan bahwa ekosistem pesisir seperti mangrove, rawa, dan lahan basah memiliki fungsi ekologis penting, mulai dari menyerap karbon hingga melindungi wilayah pesisir dari badai.

Meski demikian, kawasan-kawasan tersebut sering kali dianggap tidak produktif sehingga rentan mengalami perubahan akibat aktivitas pembangunan.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kajian Kewilayahan BRIN Fadjar Ibnu Thufail, yang bertindak sebagai moderator, menilai perspektif yang disampaikan Anna membuka cara pandang baru dalam memahami sejarah kawasan Asia Tenggara maritim.

Menurutnya, pendekatan yang menghubungkan dinamika ekologis dengan sejarah sosial kawasan memberi ruang bagi kajian kewilayahan untuk melihat Asia Tenggara tidak hanya dari perspektif negara atau pusat kekuasaan, tetapi juga dari dinamika lingkungan serta kehidupan masyarakat pesisir.

Ia menegaskan bahwa forum akademik seperti kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya BRIN untuk memperluas dialog ilmiah sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antara peneliti Indonesia dan komunitas ilmiah internasional dalam memahami masa depan wilayah pesisir yang semakin rentan terhadap krisis lingkungan dan perubahan iklim. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *