Site icon Tropis.id

Rakyat Pasuruan Turun ke Jalan: Tolak Alih Fungsi Hutan Arjuno

Ribuan masyarakat dari Pasuruan hingga Sidoarjo turun ke jalan menolak keras rencana alih fungsi hutan seluas 23 hektare Gunung Arjuno yang dinilai mengancam keselamatan ribuan jiwa. Ist

PASURUAN — Gelombang perlawanan warga pecah di lereng Gunung Arjuno.

Ribuan masyarakat dari Pasuruan hingga Sidoarjo turun ke jalan menolak keras rencana alih fungsi hutan seluas 23 hektare yang dinilai mengancam keselamatan ribuan jiwa.

Aksi yang dipusatkan di kawasan Jalan Limas, Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Minggu (29/3/2026), menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap proyek yang dianggap berpotensi merusak ekosistem kawasan pegunungan.

Massa datang dari berbagai wilayah seperti Beji, Pandaan, hingga Sidoarjo. Mereka membawa poster dan spanduk bernada keras, mendesak pemerintah menghentikan rencana perubahan status lahan dari zona hijau menjadi zona kuning.

Warga menilai, keputusan tersebut bukan sekadar perubahan tata ruang—melainkan ancaman nyata bagi kehidupan.

Indonesia-Jepang Kolaborasi Konservasi Satwa Komodo

Kawasan lereng Gunung Arjuno selama ini berfungsi sebagai penyangga ekologis yang melindungi wilayah hilir dari bencana.

Koordinator aksi, Kusuma, menegaskan bahwa sedikitnya 9.000 warga berada dalam risiko langsung jika hutan tersebut dialihfungsikan.

“Ini bukan hanya soal hutan, ini soal nyawa. Kalau hutan hilang, longsor dan banjir tinggal menunggu waktu,” tegasnya.

Tak hanya menolak, massa juga melayangkan tuntutan tegas: pembekuan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), pencabutan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas nama PT Stasiun Kota Sarana Permai, serta pembatalan SK Kementerian Kehutanan Nomor 375 Tahun 2004.

Selain itu, warga mendesak aparat mengusut proses tukar menukar kawasan hutan (TMKH) yang melibatkan PT Kusuma Raya Utama, yang dinilai sarat kepentingan.

Dua Harimau Mati Beruntun di Bandung Zoo, Geopix Serukan Audit Total

Bagi warga, hutan di lereng Gunung Arjuno tidak hanya berupa lahan—melainkan benteng terakhir yang menjaga keseimbangan alam. Mereka menolak segala bentuk pembangunan, termasuk proyek wisata terpadu yang direncanakan di kawasan tersebut.

“Hutan harus tetap jadi hutan. Tidak ada kompromi,” ujar salah satu peserta aksi.

Aksi ini dipastikan bukan yang terakhir. Warga mengancam akan menggelar demonstrasi lanjutan dengan massa lebih besar jika pemerintah tetap melanjutkan proyek tersebut.

Ketegangan antara kepentingan pembangunan dan keselamatan lingkungan kini mencapai titik kritis—dan Gunung Arjuno menjadi medan pertaruhannya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

“Bali Organik Masih Sebatas Ambisi Politik dan Ganti Merek Pupuk”
Exit mobile version