BOGOR – Ramadan menjadi momentum tepat untuk menata ulang pola makan agar lebih sehat dan seimbang.
Pakar gizi dari IPB University, Dr Eny Palupi, mengajak masyarakat kembali memanfaatkan pangan lokal sebagai pilihan utama menu sahur dan berbuka puasa.
Menurutnya, di tengah maraknya makanan instan dan produk impor, pangan lokal justru menawarkan komposisi gizi yang lengkap serta lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh selama berpuasa.
Energi Lebih Tahan Lama dari Umbi-Umbian
Umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas mengandung karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat. Jenis karbohidrat ini membantu menjaga rasa kenyang lebih lama sekaligus menstabilkan gula darah—hal yang penting untuk menjaga stamina sepanjang hari.
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula saat berbuka justru berisiko memicu lonjakan gula darah dan meningkatkan potensi gangguan metabolik bila dilakukan terus-menerus.
Protein Nabati dan Serat dari Kacang-Kacangan
Kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah menjadi sumber protein nabati serta serat yang baik untuk memperbaiki jaringan tubuh dan menjaga kesehatan pencernaan. Kombinasi ini penting untuk mendukung pemulihan energi setelah seharian berpuasa.
Sayuran dan Buah Lokal untuk Daya Tahan Tubuh
Sayuran lokal seperti bayam, kangkung, kecipir, paria, bunga turi, dan daun kelor kaya vitamin serta mineral yang mendukung sistem imun. Sementara buah-buahan seperti pisang, pepaya, mangga, rambutan, dan salak dapat menjadi sumber energi cepat karena kandungan glukosanya yang mudah dicerna.
“Pangan lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak, tetapi juga menyediakan serat, vitamin, dan mineral esensial yang dibutuhkan tubuh selama Ramadan,” jelasnya dikutip Senin (23/2/2026).
Lebih Segar dan Berkelanjutan
Selain bernilai gizi tinggi, pangan lokal umumnya lebih segar karena tidak melalui rantai distribusi panjang. Konsumsinya juga mendukung petani lokal serta membantu mengurangi jejak karbon dari transportasi jarak jauh.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, kembali ke menu tradisional berbasis pangan lokal bukan sekadar pilihan nostalgia, tetapi langkah nyata menuju Ramadan yang lebih sehat, seimbang, dan berkelanjutan. (TR Network)
