JAKARTA — Pembangunan fasilitas astronomi di berbagai wilayah dunia kini menghadapi tantangan baru: potensi konflik dengan masyarakat adat yang hidup di sekitar lokasi proyek ilmiah.
Para peneliti menegaskan bahwa pembangunan observatorium dan infrastruktur astronomi tidak boleh mengabaikan hak-hak masyarakat lokal serta pengetahuan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.
Isu sensitif ini menjadi fokus utama dalam International Webinar “Science and Society: The Rendezvous of Astronomical Facilities and Indigenous Communities”, yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Square Kilometre Array Observatory (SKAO) dan University of Canterbury, Selasa (10/3/2026).
Para pakar menilai bahwa tanpa pendekatan inklusif, pembangunan fasilitas astronomi berisiko menimbulkan ketegangan sosial, bahkan mengancam keberlangsungan pengetahuan kosmologi tradisional masyarakat adat.
Infrastruktur Astronomi Tak Boleh Mengorbankan Komunitas Lokal
Deputy Director General SKAO, Simon Berry, menegaskan bahwa proyek astronomi berskala besar harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap masyarakat adat.
Menurutnya, fasilitas ilmiah modern tidak boleh hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi komunitas yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan.
“Pendekatan yang inklusif dan penuh rasa hormat sangat penting dalam pembangunan fasilitas astronomi di berbagai wilayah dunia,” ujar Simon.
SKAO sendiri merupakan organisasi antarpemerintah yang beranggotakan 13 negara, dengan misi membangun dua teleskop radio terbesar dan paling kuat di dunia. Selain riset astronomi mutakhir, proyek ini juga bertujuan mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pendidikan bagi ilmuwan dan insinyur di negara anggota.
Namun, SKAO juga menekankan bahwa pembangunan teleskop harus memperhatikan keberlanjutan sosial dan lingkungan, termasuk menjalin kemitraan dengan masyarakat adat di sekitar lokasi observatorium.
“Kami berupaya memastikan pembangunan infrastruktur ilmiah juga memberikan manfaat langsung bagi komunitas setempat,” kata Simon.
Pengetahuan Astronomi Nusantara Sudah Ada Sejak Lama
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (ARBASTRA) BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan bahwa hubungan antara astronomi dan kehidupan masyarakat sebenarnya telah lama berkembang di Indonesia.
Menurutnya, masyarakat Nusantara sejak berabad-abad lalu telah memanfaatkan pengetahuan astronomi untuk berbagai kebutuhan praktis, seperti pertanian, navigasi laut, hingga ritual keagamaan.
“Sejak dahulu masyarakat Indonesia telah memanfaatkan pengetahuan astronomi untuk kehidupan sehari-hari, termasuk pertanian dan praktik keagamaan,” jelas Herry.
Penelitian yang dilakukan BRIN menunjukkan bahwa berbagai komunitas lokal memiliki pengetahuan tradisional mengenai siklus musim, iklim, serta pengelolaan lahan yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan modern.
Karena itu, menurut Herry, pengetahuan lokal tersebut harus menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan fasilitas astronomi masa depan.
Rahasia Astronomi di Balik Candi Nusantara
Herry juga mengungkap bahwa penelitian BRIN bersama organisasi riset di Thailand menggunakan pendekatan arkeoastronomi dan etnoastronomi untuk memahami hubungan antara arsitektur kuno dan fenomena langit.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa sejumlah bangunan bersejarah di Indonesia memiliki keterkaitan dengan posisi benda langit.
“Penelitian ini membantu memahami bagaimana candi-candi seperti Prambanan dan Borobudur dibangun dengan mempertimbangkan posisi astronomis dan filosofi lokal,” ujarnya.
Temuan ini memperlihatkan bahwa astronomi bukan sekadar ilmu modern, tetapi juga bagian dari warisan intelektual masyarakat Nusantara.
Masyarakat Adat Harus Terlibat Sejak Awal
Indonesia yang memiliki jutaan masyarakat adat di berbagai wilayah dinilai perlu memastikan keterlibatan komunitas lokal dalam setiap proyek ilmiah besar.
Herry menekankan bahwa masyarakat adat tidak boleh hanya dilibatkan setelah proyek dimulai, tetapi harus menjadi bagian dari proses perencanaan sejak awal.
“Masyarakat adat adalah pemegang pengetahuan lokal yang dapat memberikan masukan penting mengenai kondisi lahan, lingkungan, serta potensi dampak pembangunan fasilitas astronomi,” kata Herry.
Ia berharap pembangunan observatorium di masa depan tidak hanya menjadi pusat penelitian astronomi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan ekonomi lokal, serta kolaborasi ilmiah lintas negara.
“Semoga diskusi ini menjadi awal kolaborasi berkelanjutan yang memberi manfaat nyata bagi penelitian dan masyarakat,” pungkasnya.
Ancaman Baru: Satelit Mengganggu Langit Gelap
Selain isu keterlibatan masyarakat adat, para peneliti juga menyoroti ancaman baru terhadap penelitian astronomi: konstelasi satelit di orbit rendah Bumi.
Director SKAO Low Site Construction, Antony Schinckel, menjelaskan bahwa teleskop SKA dibangun di wilayah terpencil di Australia dan Afrika Selatan untuk menghindari gangguan aktivitas manusia dan polusi elektromagnetik.
Proyek tersebut juga memperhatikan hak masyarakat adat melalui pengakuan native title di Australia yang memberikan hak hukum kepada masyarakat Aborigin atas tanah dan perairan mereka.
Melalui mekanisme Indigenous Land Use Agreements (ILUA), pembangunan fasilitas dilakukan dengan persetujuan masyarakat adat serta meminimalkan dampak terhadap budaya dan lingkungan.
Selain itu, proyek SKA juga membuka peluang ekonomi bagi komunitas lokal melalui lapangan kerja, pelatihan, pendidikan, serta dukungan bagi usaha masyarakat.
Satelit Mengancam Observatorium Indonesia
Peneliti BRIN Antonia Rahayu Rosaria Wibowo menyoroti ancaman konstelasi satelit terhadap pengembangan astronomi di negara berkembang seperti Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa Observatorium Nasional Indonesia di Gunung Timau dibangun sejak 2015 untuk menggantikan fasilitas astronomi lama di Bandung yang semakin terdampak polusi cahaya perkotaan.
Namun sebelum observatorium tersebut beroperasi penuh, jalur satelit di orbit rendah Bumi sudah mulai mengganggu kualitas pengamatan astronomi.
“Meskipun observatorium belum beroperasi penuh, jalur satelit sudah mengganggu kualitas data astronomi yang akan diperoleh,” jelas Antonia.
Gangguan tersebut tidak hanya memengaruhi penelitian ilmiah, tetapi juga dapat mengancam tradisi pengamatan langit yang dimiliki masyarakat adat di sekitar lokasi observatorium.
Menurut Antonia, kondisi ini berpotensi merampas hak masyarakat adat untuk mengakses langit dan mempertahankan pengetahuan astronomi tradisional mereka.
Karena itu, ia menyarankan perlunya kerja sama antara pemerintah, lembaga riset, pemerintah daerah, dan masyarakat adat untuk melindungi wilayah observatorium sebagai kawasan taman langit gelap.
“Langkah ini penting untuk menjaga kualitas penelitian astronomi sekaligus melindungi pengetahuan dan budaya masyarakat adat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk mengatur penggunaan orbit oleh negara maju dan perusahaan swasta, termasuk kemungkinan mekanisme kompensasi bagi negara berkembang yang terdampak oleh konstelasi satelit. (TR Network)
