JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam Provinsi Riau.
Dalam kondisi cuaca kering ekstrem dan tanpa hujan hampir 20 hari, pemerintah bergerak cepat. Sebanyak 240 personel diterjunkan dalam operasi gabungan darat dan udara guna menahan laju api dan mencegah bencana asap meluas ke wilayah permukiman menjelang Ramadan.
Keterangan resmi Kementerian Kehutanan pada Selasa (17/2/2026) menyebutkan, tim gabungan terdiri dari Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI, Polri, BPBD, serta unsur terkait lainnya telah diterjunkan ke lokasi.
Strategi utama adalah melokalisir api agar tidak menjalar luas, terutama di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar.
160 Personel Padamkan Api, 80 Siaga Deteksi Titik Panas
Sebanyak 160 personel Manggala Agni dikerahkan langsung ke lokasi kebakaran, sementara 80 personel lainnya disiagakan untuk patroli dan deteksi dini hotspot baru.
Penguatan lintas wilayah juga dilakukan:
– Daops Rengat diperbantukan ke Pulau Mendol, Pelalawan
– Daops Siak dikerahkan ke Bengkalis
– Regu tambahan dari Daops Bukit Tempurung Jambi mendukung wilayah Dumai
Titik kebakaran tersebar di Kabupaten Kampar, Bengkalis, Siak, dan Pelalawan. Status lahannya beragam, mulai dari Hutan Produksi, Hutan Produksi Konversi, Kawasan Konservasi hingga Areal Penggunaan Lain (APL).
Beberapa titik bahkan berada dekat kebun sawit masyarakat dan perusahaan serta kawasan perumahan.
Gambut Kering Minus 90 Cm, Api Sulit Dipadamkan
Kondisi lapangan menjadi tantangan berat. Muka air tanah di lahan gambut tercatat minus sekitar 90 sentimeter, membuat vegetasi sangat kering dan mudah terbakar.
Angin kencang mempercepat penyebaran api, sementara keterbatasan sumber air menyulitkan pemadaman.
Indikasi awal menunjukkan sebagian kebakaran diduga berasal dari aktivitas pembersihan lahan dengan pembakaran sisa vegetasi yang tidak terkendali.
Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, menegaskan bahwa fokus saat ini adalah menahan pergerakan api agar tidak memperluas dampak.
“Cuaca kering, angin kencang, dan bahan bakar vegetasi yang mudah terbakar membuat situasi sangat menantang. Pengerahan personel dan dukungan lintas wilayah dilakukan secara terukur,” tegasnya.
Operasi Modifikasi Cuaca Dikerahkan
Sebagai langkah tambahan, BNPB melalui BPBD Provinsi Riau menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pada Senin, 16 Februari 2026, pesawat Cessna Grand Caravan C208 menyemai satu ton garam di wilayah Siak dan Pekanbaru untuk memicu hujan buatan.
Langkah ini dinilai krusial untuk membantu suplai air alami di wilayah yang kesulitan sumber air permukaan.
Status Siaga Darurat Hingga November 2026
Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla melalui SK Nomor 102/2026 yang berlaku mulai 13 Februari hingga 30 November 2026.
Dalam waktu dekat, Satgas Karhutla akan dibentuk guna memperkuat koordinasi dan respons darurat.
Pemerintah mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Dengan kondisi ekstrem saat ini, satu percikan api dapat berubah menjadi bencana asap berskala besar.
Target: Riau Bebas Asap Jelang Ramadan
Upaya terpadu darat dan udara ini diharapkan mampu menjaga Riau tetap bebas asap menjelang bulan Ramadan, sehingga aktivitas masyarakat dapat berlangsung aman dan sehat. (TR Network)


Komentar