Site icon Tropis.id

Saat Iklim Tak Lagi Bersahabat, Teknologi Jadi Penyelamat Tambak Garam Rakyat

Petambak Garam Rakyat di Indramayu, Jawa Barat. Ist

JAKARTA – Perubahan iklim mengubah wajah produksi garam nasional. Musim hujan yang makin panjang, cuaca ekstrem yang sulit diprediksi, hingga pergeseran pola kemarau membuat tambak garam rakyat kian rentan gagal panen.

Di tengah tekanan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong terobosan teknologi agar petambak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kemurahan cuaca.

Melalui penerapan Teknologi Evaporasi Pergaraman Tunnel–Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), KKP menghadirkan solusi adaptif yang memungkinkan produksi garam tetap berlangsung sepanjang tahun—baik saat kemarau maupun di tengah intensitas hujan yang meningkat akibat perubahan iklim.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, saat meninjau penerapan teknologi tersebut di Kabupaten Indramayu, menegaskan bahwa penggunaan SWRO di sektor pergaraman merupakan yang pertama di Indonesia.

Inovasi ini tidak hanya menjawab tantangan iklim, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi serta kualitas garam nasional.

Udara Lebih Bersih Saat Pandemi, Tapi Bumi Makin Panas, Kenapa?

“Perubahan iklim memaksa kita beradaptasi. Dengan teknologi SWRO yang terintegrasi sistem tunnel, produksi garam tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca. Bahkan, teknologi ini menghasilkan air bersih sebagai produk sampingan yang sangat dibutuhkan masyarakat pesisir,” ujar Koswara dalam siaran resmi di Jakarta, dikutip Jumat (6/2).

Teknologi SWRO bekerja dengan menyaring air laut melalui proses pemisahan air tawar, senyawa garam, serta zat lain yang berpotensi mengganggu kualitas. Hasilnya adalah air laut berkadar natrium klorida (NaCl) murni dengan kepekatan hingga 15 derajat Baume (BE), sehingga dapat langsung masuk ke tahap kristalisasi.

Dengan kualitas bahan baku tersebut, proses pembentukan kristal garam menjadi jauh lebih singkat—sekitar tiga hingga lima hari dalam kondisi normal. Efisiensi ini menjadi kunci bagi petambak untuk tetap produktif di tengah cuaca yang kian ekstrem dan tidak menentu.

Integrasi sistem tunnel dan SWRO dinilai sebagai strategi adaptasi iklim yang konkret. Teknologi ini melindungi proses produksi dari hujan, menjaga kualitas garam tetap tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan usaha pergaraman rakyat yang selama ini paling terdampak perubahan iklim.

Ketua Koperasi Produsen Sae Nalendra Darma Raga, Kabupaten Indramayu, Carmadi, mengakui bahwa teknologi tersebut menjadi penopang utama produksi saat musim hujan.

Terumbu Karang Purba dan Sasi Leluhur: Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Biodiversitas Laut Dunia

“Dulu, hujan berarti berhenti produksi. Sekarang, dengan sistem tunnel dan geomembran, garam tetap bisa dipanen. Dalam waktu sekitar lima hari, hasilnya sudah siap dan kualitasnya lebih putih serta bersih,” kata Carmadi.

Ia berharap dukungan teknologi adaptif ini terus diperluas agar petambak garam mampu bertahan dan berkembang di tengah krisis iklim, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version