BANYUWANGI – Status bergengsi Ijen UNESCO Global Geopark (UGGp) sedang dipertaruhkan dan kini memasuki fase penentuan.
Menjelang Revalidasi Ijen UGGp 2026, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Pemprov Jawa Timur memperkuat kualitas destinasi, tata kelola, dan SDM pariwisata agar standar internasional tetap terjaga.
Revalidasi yang dijadwalkan pada Juni 2026 ini menjadi ujian perdana sejak Ijen resmi menyandang status UNESCO Global Geopark pada 2023.
Jejak Sejarah: Ijen Resmi Jadi UNESCO Global Geopark
Gunung Ijen dinobatkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dalam sidang tahunan UNESCO di Paris, Prancis, pada 24 Mei 2023. Penyerahan sertifikat resmi kepada pengelola Ijen Geopark dilaksanakan pada September 2023 di Maroko.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut pencapaian ini sebagai kebanggaan luar biasa bagi Jawa Timur.
“Sebuah kebanggaan yang luar biasa, satu lagi objek wisata geologi di Jatim dinobatkan sebagai UGGp,” ujar Khofifah di Surabaya (4/6/2023) lalu.
Lebih membanggakan lagi, Ijen dinyatakan lulus sidang Council UNESCO di Satun, Thailand, pada 5 September 2022 dengan nilai 873—tertinggi di antara aspiring UNESCO Global Geopark di Indonesia.
Sebagai perbandingan:
Geopark Belitung: skor 850
Geopark Maros Pangkep: skor 869
Nilai tinggi tersebut diperoleh berkat keunikan geologi, biologi, budaya, serta fenomena alam blue fire yang mendunia.
Revalidasi Ijen UGGp 2026: Ujian Konsistensi Standar Global
Kini, status itu diuji kembali melalui revalidasi UNESCO 2026.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menggelar rapat koordinasi pengembangan destinasi sebagai langkah strategis menyambut evaluasi tersebut.
Kegiatan yang difasilitasi Disbudpar Provinsi Jawa Timur ini berfokus pada:
– Penguatan tata kelola destinasi
– Peningkatan kapasitas SDM pariwisata
– Keterlibatan aktif masyarakat
– Pengelolaan berbasis keberlanjutan
Wilayah deliniasi Ijen Geopark mencakup Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso.
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dispar Jatim, Radix Mulya Mahardika, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
“Pertemuan ini memperkuat kerja sama pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta seluruh pelaku wisata dan budaya di area Ijen UGG agar dapat bersinergi membangun kawasan Ijen secara berkelanjutan,” ujarnya (09/02/2026).
Sementara itu, Plt. Kepala Disbudpar Banyuwangi, Hartono, berharap forum ini menghasilkan penyempurnaan strategi lapangan.
FGD dan Kunjungan Lapangan: Bukti Kesiapan Banyuwangi
Rangkaian kegiatan berlangsung 9–11 Februari 2026. Hari pertama diisi Focus Group Discussion (FGD) di Rumah Digital Desa Wisata Gombengsari, salah satu site penting Ijen Geopark.
Peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke:
– Kawasan pesisir Teluk Pang-pang
– Desa Wisata Wringin Putih
Langkah ini menunjukkan bahwa persiapan revalidasi tidak hanya administratif, tetapi juga menyentuh praktik teknis pengelolaan destinasi.
Dampak Status UNESCO: Wisata, Investasi, dan Ekonomi Lokal
Menurut Khofifah, pengakuan UNESCO membawa dampak besar:
– Promosi global langsung oleh UNESCO
– Terbangunnya jejaring antar-UGGp dunia
– Peluang kerja sama pendidikan, budaya, dan ekonomi
– Terbukanya peluang investasi ramah lingkungan
“Semoga ini bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara maupun nusantara, sehingga dapat mendorong perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Status UGGp juga diyakini membuka peluang pendanaan dan investasi, khususnya dari komunitas dan investor yang menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Dua Geopark UNESCO di Jawa Timur
Khofifah mengungkapkan perjalanan panjang pengajuan Ijen sebagai UGGp dimulai sejak 2020, dari penyusunan dokumen administrasi, pembuatan logo, hingga pembentukan Badan Pengelola Ijen Geopark.
Setelah ditetapkan sebagai Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), Ijen menjalani asesmen berjenjang hingga lolos sidang UNESCO.
Saat ini, Jawa Timur memiliki dua geopark berstatus UNESCO Global Geopark:
– Geopark Gunungsewu (divalidasi kembali 2019)
– Geopark Ijen
Ijen menjadi istimewa karena wilayahnya 100 persen berada di Jawa Timur.
Revalidasi 2026: Momentum Pembuktian
Revalidasi Ijen UGGp 2026 menjadi momentum pembuktian bahwa Banyuwangi dan Bondowoso mampu menjaga standar global dalam konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Jika berhasil, Ijen akan semakin kokoh di peta wisata geologi dunia. Namun jika gagal, reputasi internasional yang telah dibangun sejak 2023 bisa dipertaruhkan.
Banyuwangi pun memilih bergerak cepat—menjaga warisan bumi, mempertahankan status UNESCO Global Geopark, dan memastikan Ijen tetap bersinar di panggung dunia. (TR Network)


Komentar