JAKARTA – Hutan tropis ternyata bukan sekadar hamparan pohon hijau. Ia adalah “pabrik hujan” raksasa yang menopang pertanian, listrik, hingga krisis air global.
Studi terbaru dari University of Leeds mengungkap fakta mengejutkan: setiap satu hektar hutan tropis mampu menghasilkan sekitar 2,4 juta liter hujan per tahun.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment melalui riset berjudul Quantifying tropical forest rainfall generation.
Temuan ini memperkuat satu pesan tegas: menebang hutan berarti mematikan sumber air itu sendiri.
Bagaimana Hutan “Menciptakan” Hujan?
Para peneliti menggabungkan data satelit dan model iklim mutakhir untuk menghitung seberapa besar kontribusi hutan terhadap curah hujan.
Proses kuncinya adalah evapotranspirasi — ketika energi matahari membantu menguapkan air dari daun pohon ke atmosfer. Uap air ini kemudian membentuk awan dan kembali turun sebagai hujan.
Hasilnya mengejutkan:
– Setiap 1 meter persegi hutan tropis menghasilkan sekitar 240 liter hujan per tahun
– Di wilayah Amazon, angkanya bahkan mencapai 300 liter per meter persegi
Amazon Hasilkan Hujan Senilai Rp 337 Triliun per Tahun
Para peneliti tak hanya menghitung volume hujan, tetapi juga nilai ekonominya.
Hujan yang dihasilkan hutan Amazon di Brasil diperkirakan bernilai sekitar 20 miliar dollar AS per tahun (sekitar Rp 337,97 triliun) bagi sektor pertanian.
Ironisnya, dana perlindungan dan restorasi Amazon jauh lebih kecil dibanding nilai ekonomi hujan yang dihasilkannya.
Dr. Jess Baker dari Fakultas Bumi, Lingkungan, dan Keberlanjutan University of Leeds menyebut penelitian ini sebagai bukti paling kuat tentang nilai nyata hutan tropis.
“Ini adalah bukti paling lengkap dan kuat hingga saat ini mengenai nilai dari air hujan yang dihasilkan oleh hutan tropis,” ujarnya.
80 Juta Hektar Hilang, Kerugian Hampir Rp 84 Triliun per Tahun
Studi ini juga mengungkap dampak brutal deforestasi.
Dalam beberapa dekade terakhir, sekitar 80 juta hektar hutan Amazon telah ditebang. Akibatnya, manfaat hujan yang hilang diperkirakan mencapai hampir 5 miliar dollar AS per tahun (sekitar Rp 84,5 triliun).
Dampaknya tidak main-main:
– Produksi pangan menurun
– Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terancam
– Pasokan air minum terganggu
– Transportasi sungai melemah
– Penyerapan karbon makin berkurang
Sebagai ilustrasi:
Tanaman kapas membutuhkan 607 liter air per meter persegi — setara hasil dari dua meter persegi hutan utuh
Kedelai membutuhkan 501 liter air — setara hasil dari 1,7 meter persegi hutan
Artinya, lahan pertanian sangat bergantung pada hutan yang sering justru ditebang demi perluasan pertanian itu sendiri.
Mengapa Dunia Masih Gagal Menghentikan Deforestasi?
Meski ada komitmen global menghentikan penebangan hutan pada 2030, deforestasi di kawasan tropis masih terus terjadi.
Menurut Dr. Callum Smith, selama ini nilai “pabrik hujan” belum benar-benar dimasukkan dalam sistem hukum dan ekonomi.
“Jika kita menyadari hubungan penting ini, ketegangan antara petani dan aktivis lingkungan bisa berkurang, sekaligus memperkuat dukungan luas untuk melindungi hutan.”
Hutan Bukan Beban, Tapi Infrastruktur Air Masa Depan
Di tengah krisis iklim dan ancaman kekeringan, hutan tropis adalah infrastruktur alami penghasil air yang tak tergantikan.
Menebangnya bukan hanya kehilangan pohon —tetapi kehilangan hujan, pangan, listrik, dan masa depan.
Kini pertanyaannya sederhana:
Apakah kita masih akan mengorbankan “pabrik hujan” demi keuntungan jangka pendek? (TR Network)


Komentar