Riset
Beranda / Riset / Sungai Cisadane Beracun, Jutaan Warga Terancam

Sungai Cisadane Beracun, Jutaan Warga Terancam

Peneliti Ahli Utama Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., saat melakukan pengujian kualitas air di Sungai Cisadane. Ist

TANGERANG – Tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida ke Sungai Cisadane berubah menjadi ancaman serius bagi jutaan warga Tangerang Raya.

Zona terdampak mencapai 22,5 kilometer, membentang dari Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Tangerang Selatan—wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan ketergantungan besar pada air sungai sebagai sumber baku.

Peneliti Ahli Utama Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ignasius D.A. Sutapa, M.Sc., menegaskan bahwa insiden ini merupakan krisis ekologis akut.

“Beban pencemaran yang masuk secara tiba-tiba melampaui kapasitas alami sungai untuk melakukan pengenceran dan asimilasi. Dampaknya bisa sistemik,” ujarnya Jumat (13/2/2026).

Intake Air Baku di Zona Bahaya

Secara hidrodinamika, kontaminan menyebar mengikuti arus melalui proses dispersi dan difusi.

Sungai Cisadane Tercemar Limbah Kimia, Warga Dilarang Gunakan Air dan Konsumsi Ikan

Jika pestisida memiliki kelarutan tinggi dan stabil di air, maka konsentrasinya dapat bertahan cukup lama dan menjangkau intake air baku PDAM.

Karena itu, BRIN merekomendasikan langkah darurat:

– Penutupan sementara intake air baku di wilayah terdampak
– Pemantauan kualitas air secara real-time
– Edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah racun masuk ke sistem distribusi air bersih yang melayani jutaan pelanggan.

Ikan Mati dan Ancaman Rantai Makanan

Konsentrasi pestisida tinggi berpotensi menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Namun dampak tidak berhenti pada kematian sesaat.

20 Ton Pestisida Cemari Sungai Cisadane, Menteri LH Siap Gugat PT Biotek Saranatama

Ignasius mengingatkan risiko bioakumulasi dan biomagnifikasi, di mana residu racun menumpuk dalam jaringan organisme dan berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.

Kontaminan juga bisa mengendap di sedimen dasar sungai, menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang—bahkan ketika air permukaan terlihat kembali jernih.

Risiko Kesehatan Publik

Paparan pestisida dapat terjadi melalui:

– Kontak langsung (mandi, mencuci)
– Konsumsi air baku tercemar
– Konsumsi ikan dari wilayah terdampak

Jenis pestisida tertentu bersifat neurotoksik, memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian tergantung dosis.

Gawat! 22,5 Kilometer Sungai Cisadane Tercemar Limbah  Pestisida

Dalam jangka panjang, paparan kronis berisiko menyebabkan gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan potensi karsinogenik.

Krisis Sungai, Ujian Ketahanan Air Perkotaan

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa ketahanan air di kawasan urban sangat rentan terhadap pencemaran B3 dalam skala besar. Tanpa pengawasan ketat, sistem peringatan dini, dan penegakan hukum tegas, sungai sebagai sumber kehidupan bisa berubah menjadi sumber ancaman.

Sungai Cisadane tidak hanya tercemar—ia menjadi ujian nyata bagi perlindungan jutaan warga yang bergantung pada setiap tetes airnya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *