Riset
Beranda / Riset / Udara Lebih Bersih Saat Pandemi, Tapi Bumi Makin Panas, Kenapa?

Udara Lebih Bersih Saat Pandemi, Tapi Bumi Makin Panas, Kenapa?

Suhu panas matahari terperangkap pada gas metana di atmosfer. Ilustrasi

JAKARTA — Di balik menurunnya polusi udara selama pandemi Covid-19, atmosfer Bumi justru kehilangan salah satu mekanisme alaminya dalam mengendalikan gas rumah kaca metana.

Fenomena inilah yang mendorong lonjakan metana global dan mempercepat laju pemanasan global, meski aktivitas manusia sempat melambat.

Atmosfer Bumi sejatinya memiliki sistem pembersih alami berupa radikal hidroksil (OH), senyawa reaktif berumur sangat pendek yang kerap disebut sebagai “detergen” udara global.

Radikal ini berperan penting dalam menguraikan metana agar tidak bertahan terlalu lama di atmosfer.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sistem pembersih ini melemah. Dampaknya terasa cepat dan signifikan: konsentrasi metana di atmosfer melonjak ke tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya.

PIK 2: Mewah di Dalam, Banjir di Luar dan Warga Pesisir Jadi Korban

Lonjakan Metana Saat Aktivitas Global Melambat

Antara 2020 hingga 2022, laju pertumbuhan metana hampir dua kali lipat, dari sekitar 20 juta ton per tahun menjadi mendekati 40 juta ton.

Lonjakan ini sempat membingungkan para ilmuwan, karena terjadi saat industri, transportasi, dan mobilitas global justru melambat akibat pandemi Covid-19.

Riset terbaru menunjukkan penyebabnya bukan semata peningkatan emisi metana, melainkan runtuhnya keseimbangan kimia atmosfer.

Ketika emisi polutan tertentu turun, kemampuan atmosfer untuk menguraikan metana ikut melemah. Akibatnya, metana bertahan lebih lama dan terakumulasi lebih cepat.

Peran NOx dan Radikal Hidroksil

Selama pandemi, pembatasan mobilitas global memangkas tajam emisi nitrogen oksida (NOx) dari kendaraan bermotor, pesawat, dan kapal laut. NOx selama ini dikenal sebagai polutan udara berbahaya, tetapi juga berperan penting dalam pembentukan radikal hidroksil.

Saat Iklim Tak Lagi Bersahabat, Teknologi Jadi Penyelamat Tambak Garam Rakyat

Ketika emisi NOx menurun drastis, produksi radikal OH ikut anjlok. Akibatnya, metana—gas rumah kaca yang daya pemanasannya jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida—kehilangan “musuh alaminya” di atmosfer.

“Selama ini kita tanpa sadar memproduksi polusi metana sekaligus zat yang membantu membersihkannya,” kata Matthew Johnson dari University of Copenhagen, Denmark, dikutip New Scientist, Jumat (6/2/2026).

“Ketika zat pembersih itu menghilang, metana mengambil alih.”

Emisi Metana dari Lahan Basah dan Pertanian

Metana rata-rata bertahan sekitar satu dekade di atmosfer, tetapi efek pemanasannya jauh lebih kuat dibanding CO₂. Konsentrasinya telah meningkat sejak 1980-an, terutama akibat kebocoran gas dan pembakaran tidak sempurna dalam industri bahan bakar fosil.

Selain sumber buatan manusia, emisi metana alami dari lahan basah, pertanian, dan tempat pembuangan sampah turut memperparah situasi.

Terumbu Karang Purba dan Sasi Leluhur: Maluku Barat Daya, Benteng Terakhir Biodiversitas Laut Dunia

Fenomena La Niña pada 2020–2022 membawa curah hujan tinggi ke Afrika Tengah, memperluas lahan basah Sudd dan Cuvette Centrale yang dikenal sebagai penghasil metana besar.

Sawah di Asia Selatan dan Asia Tenggara juga melepaskan lebih banyak metana akibat kondisi yang lebih basah. Sementara itu, pemanasan global meningkatkan aktivitas mikroba di lahan basah Arktik, menciptakan umpan balik iklim yang berbahaya: suhu naik, emisi metana meningkat, dan pemanasan kian cepat.

Perdebatan Ilmiah dan Ancaman ke Depan

Studi lanjutan yang dipimpin Shushi Peng dari Peking University menunjukkan fluktuasi radikal hidroksil pada 2020–2023 menjelaskan sekitar 83 persen variasi laju pertumbuhan metana global. Meski demikian, peran OH masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan iklim.

Paul Palmer dari University of Edinburgh mengingatkan bahwa ketidakpastian estimasi OH bisa menutupi besarnya perubahan emisi metana yang sebenarnya.

Namun, ia sepakat bahwa tren jangka panjang emisi metana dari lahan basah akan terus meningkat seiring perubahan iklim.

Dalam komentar terpisah, Euan Nisbet dan Martin Manning menilai masih ada banyak “kemenangan mudah” untuk menekan metana, terutama dengan menangkap kebocoran gas dari tambang batu bara, tempat pembuangan sampah, serta instalasi pengolahan limbah di negara-negara besar seperti China dan India.

Tanpa langkah agresif untuk menekan emisi metana sektor energi, limbah, dan pertanian, para ilmuwan memperingatkan atmosfer Bumi berisiko kehilangan kendali atas salah satu gas rumah kaca paling berbahaya bagi iklim global. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *