TANGERANG – Pemerintah bersama masyarakat melakukan aksi darurat untuk memulihkan kualitas air Sungai Cisadane yang tercemar pestisida.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq bersama Generasi Muda Buddhis Indonesia (GEMARBUDHI) menuangkan 10.000 liter eco enzyme ke aliran Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, di Tangerang, Banten, pada Minggu (8/3/2026).
Aksi yang melibatkan ratusan relawan ini sekaligus memecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penuangan eco enzyme terbanyak.
Kegiatan tersebut menjadi tolak ukur keterlibatan publik, terutama generasi muda, dalam upaya pemulihan lingkungan yang tercemar.
Menteri Hanif menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif GEMARBUDHI dalam gerakan penyelamatan sungai.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem air.
“Kami sangat bangga atas partisipasi aktif generasi muda dalam aksi nyata pemulihan Sungai Cisadane. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk berperan serta menjaga lingkungan hidup,” ujar Hanif.
Dampak Pencemaran Pestisida
Langkah ini merupakan bagian dari respons pemerintah terhadap pencemaran Sungai Cisadane akibat kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama pada 9 Februari 2026. Insiden tersebut menyebabkan senyawa organofosfat masuk ke aliran sungai.
Senyawa kimia tersebut dikenal bersifat toksik bagi biota perairan. Dampaknya, terjadi kematian ikan massal di sepanjang sekitar 41 kilometer aliran sungai hingga kawasan Teluk Naga.
Pencemaran ini memicu kekhawatiran masyarakat karena Sungai Cisadane merupakan sumber air penting bagi aktivitas warga dan ekosistem sekitar.
Langkah Penanganan Pemerintah
Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan telah mengambil sejumlah langkah cepat untuk mengendalikan dampak pencemaran tersebut, antara lain:
– Mengamankan sisa bahan kimia di lokasi kebakaran
– Memasang garis pengawasan oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH)
– Menyiapkan penegakan hukum pidana dan perdata terhadap pihak terkait
– Menyusun program bioremediasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) apabila kandungan pestisida pada sedimen sungai masih tinggi
Langkah penuangan eco enzyme diharapkan menjadi bagian dari upaya awal untuk mempercepat pemulihan kualitas air sungai.
Sungai sebagai Penentu Masa Depan Lingkungan
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Hanif menegaskan bahwa sungai memiliki peran vital bagi kehidupan manusia dan ekosistem. Oleh karena itu, perlindungan sungai harus menjadi tanggung jawab bersama.
“Sungai bukan hanya urat nadi kehidupan hari ini, tetapi juga penentu kualitas hidup anak-anak dan cucu-cucu kita kelak. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu menjaga sungai kita, karena sungai kita adalah masa depan kita,” tegasnya.
Pemerintah berharap gerakan kolektif seperti ini dapat memperkuat kesadaran publik untuk menjaga kebersihan sungai.
Partisipasi masyarakat, generasi muda, serta berbagai elemen pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar Sungai Cisadane dapat kembali bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (TR Network)
