Site icon Tropis.id

Banjir Abadi Jakarta: Ketika Ibu Kota Tak Pernah Benar-Benar Kering

Potret banjir di Jakarta. Arsip

JAKARTA – Jakarta seperti kota yang terus berlari melawan air, tetapi selalu tertinggal beberapa langkah di belakangnya.

Setiap musim hujan tiba, cerita yang sama kembali terulang: jalan berubah menjadi sungai, rumah warga terendam, pompa air bekerja tanpa henti, dan pemerintah kembali mengumumkan langkah darurat.

Namun begitu air surut, persoalan mendasarnya tetap tinggal—diam, menunggu musim hujan berikutnya.

Fenomena ini membuat banyak orang menyebutnya sebagai “banjir abadi Jakarta”—bukan hanya bencana musiman, melainkan konsekuensi dari persoalan struktural kota yang menumpuk selama puluhan tahun.

Banjir yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sendiri mengakui bahwa banjir di Jakarta hampir mustahil dihilangkan sepenuhnya.

Bencana Jakarta: Longsor Gunung Sampah Tewaskan 3 Orang, Banjir Rendam Ribuan Rumah

Menurutnya, berbagai proyek pengendalian banjir seperti normalisasi sungai yang dilakukan di Sungai Ciliwung, Kali Cakung Lama, dan Kali Krukut memang dapat mengurangi risiko banjir, tetapi tidak akan bisa menghapusnya secara total.

“Kalau itu bisa diselesaikan, maka akan mengurangi banjir di Jakarta. Tetapi kalau kemudian menghilangkan sepenuhnya banjir di Jakarta, enggak mungkin,” kata Pramono di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (8/3/2026).

Pernyataan itu mempertegas realitas yang selama ini dirasakan warga ibu kota: banjir mungkin bisa dikendalikan, tetapi sulit benar-benar dihilangkan.

Data Terbaru: Puluhan RT Masih Terendam

Pada hari yang sama, Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta mencatat banjir masih merendam 75 rukun tetangga (RT) di Jakarta.

Wilayah terdampak tersebar di beberapa daerah:

Kerusakan Lingkungan Dipertanyakan, NGO Desak Audit Ekologis Tambang Martabe

Jakarta Barat: 22 RT
Jakarta Selatan: 22 RT
Jakarta Timur: 31 RT

Banjir dipicu oleh curah hujan tinggi sejak Sabtu malam hingga Minggu dini hari, yang membuat kapasitas drainase kota tidak mampu menampung seluruh limpasan air.

Kota yang Lebih Rendah dari Laut

Ada satu fakta geografis yang membuat persoalan banjir Jakarta semakin rumit: permukaan tanah kota ini terus turun, sementara permukaan laut terus naik.

Menurut Gubernur Pramono, kondisi tersebut membuat sebagian wilayah Jakarta kini berada lebih rendah dibandingkan permukaan laut.

“Permukaan air laut sekarang ini sudah lebih tinggi daripada permukaan tanah di Jakarta,” ujarnya.

Mafia Kayu Eboni Dibongkar, Libatkan Jaringan Maluku–Surabaya

Artinya, ketika hujan turun deras, Jakarta tidak hanya menghadapi air dari langit, tetapi juga tekanan dari laut di utara serta air kiriman dari wilayah hulu seperti Bogor dan sekitarnya.

Kota Beton yang Kehilangan Ruang Air

Masalah lain yang memperparah banjir adalah perubahan wajah Jakarta selama beberapa dekade terakhir.

Banyak kawasan yang dulunya menjadi daerah resapan air kini berubah menjadi kawasan komersial, perumahan, dan infrastruktur beton. Akibatnya, air hujan tidak lagi meresap ke tanah, melainkan langsung mengalir ke jalan dan saluran drainase yang kapasitasnya terbatas.

Sungai-sungai yang dahulu lebar juga mengalami penyempitan akibat pembangunan di bantaran sungai.

Akibatnya, ketika hujan ekstrem datang, air dengan cepat meluap ke permukiman warga.

Banjir Abadi atau Kota yang Harus Berubah?

Berbagai solusi sebenarnya terus dilakukan: pembangunan waduk, normalisasi sungai, pengerukan drainase, hingga pengoperasian ratusan pompa pengendali banjir.

Namun upaya tersebut sering terasa seperti mengendalikan gejala, bukan menyelesaikan akar masalah.

Banjir Jakarta akhirnya menjadi barometer dari tantangan besar kota megapolitan: bagaimana menyeimbangkan pembangunan dengan daya dukung lingkungan.

Selama hubungan antara kota, sungai, tanah, dan laut belum ditata ulang secara mendasar, Jakarta kemungkinan akan terus mengulang cerita yang sama.

Sebuah kota modern yang setiap musim hujan harus kembali berdamai dengan air—dan dengan kenyataan bahwa banjir di Jakarta mungkin tidak pernah benar-benar pergi. (Newsroom)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version