PEKANBARU — Indonesia membutuhkan role model wisata hijau yang tidak hanya kuat dari sisi promosi, tetapi juga kokoh dalam praktik konservasi budaya, perlindungan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Di tengah tekanan modernisasi dan kompetisi global, pariwisata berkelanjutan menjadi kunci daya saing baru bagi daerah.
Pesan itu mengemuka dalam kunjungan kerja Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, ke Provinsi Riau pada 7 Februari 2026.
Agenda tersebut mencakup Pekanbaru, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Kampar, dengan fokus mendorong pengembangan pariwisata berbasis pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan.
Komunitas Lokal Jadi Fondasi
Di Pekanbaru, Zita berdialog dengan komunitas RHC dan Komunitas Suku Seni yang aktif menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Ia menegaskan, wisata hijau tidak bisa dibangun secara top-down.
“Komunitas adalah jantung dari pariwisata berbasis pengalaman. Ketika budaya dirawat oleh generasi mudanya sendiri, di situlah pariwisata menemukan ruhnya,” ujarnya.
Model ini dinilai penting karena tren wisata global kini bergeser ke arah pengalaman autentik, bukan sekadar kunjungan visual. Wisatawan mencari cerita, interaksi, dan nilai—bukan hanya destinasi.
Siak dan Konsep Wisata Autentik
Di Kabupaten Siak, yang dikenal sebagai pusat sejarah Melayu, Zita bertemu pemerintah daerah dan komunitas anak muda yang mengembangkan konsep wisata berbasis pengalaman.
Salah satu yang ditinjau adalah konsep kuliner “Makan Berhanyut”, yakni menikmati hidangan ikan di atas perahu sambil menyusuri sungai.
Konsep ini memperlihatkan bagaimana alam, budaya sungai, dan tradisi kuliner bisa dikemas menjadi produk wisata bernilai tambah tanpa merusak ekosistem maupun identitas lokal.
“Pariwisata bukan hanya tentang jarak, tetapi tentang nilai yang kita temui di sepanjang perjalanan. Dan nilai itu, di Indonesia, bernama budaya,” katanya.
Konservasi Jadi Prioritas Utama
Agenda ditutup dengan peninjauan Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, salah satu situs sejarah penting di Sumatera. Pengembangan wisata sejarah, tegasnya, harus berjalan beriringan dengan upaya konservasi.
“Budaya yang dirawat dengan benar bisa menjadi sumber penghidupan berkelanjutan. Namun pelestarian harus selalu menjadi prioritas utama,” tegas Zita.
Menuju Model Nasional
Rangkaian kunjungan ini mempertegas bahwa Indonesia tengah mencari model wisata hijau nasional—sebuah pendekatan yang mengintegrasikan konservasi budaya, perlindungan lingkungan, dan inklusi ekonomi.
Jika konsisten dijalankan, Riau berpeluang menjadi contoh konkret bagaimana destinasi dapat tumbuh secara autentik, berdaya saing, sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Indonesia tidak kekurangan destinasi indah. Yang dibutuhkan kini adalah role model wisata hijau yang mampu membuktikan bahwa pertumbuhan pariwisata dan keberlanjutan dapat berjalan seiring. (TR Network)


Komentar