JAKARTA – Bencana iklim yang dipicu oleh gelombang cuaca ekstrem kembali memukul dua wilayah sekaligus.
Di Jawa Timur, tujuh desa di Kabupaten Pasuruan terendam banjir kiriman akibat luapan Sungai Kedunglarangan dan Rejoso. Sementara di Nusa Tenggara Barat (NTB), banjir bandang melumpuhkan enam desa di Kabupaten Bima.
Pasuruan: Sungai Meluap, Permukiman Tergenang 75 Sentimeter
Banjir di Pasuruan terjadi Senin (23/2/2026) malam setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu sejak siang. Debit Sungai Kedunglarangan meningkat tajam dan meluap ke permukiman.
Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Kalianyar dan Desa Tambakan (Kecamatan Bangil) dengan ketinggian air 50–75 sentimeter—terparah di antara lokasi lainnya. Tiga desa di Kecamatan Winongan (Bandaran, Prodo, Winongan Kidul), Desa Sidogiri (Kraton), serta Desa Kedawung Kulon (Grati) juga terendam 10–50 sentimeter.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan menyebut faktor geografis Bangil yang lebih rendah memperparah dampak banjir kiriman. Dapur umum dan selter darurat dioperasikan untuk membantu warga terdampak.
Warga Tambakan mengaku banjir sudah lebih dari tiga kali terjadi dalam periode terakhir—menandakan persoalan klasik: kapasitas tanggul dan sistem pengendalian banjir di hilir belum memadai.
Bima NTB: Banjir Bandang Sapu Enam Desa
Di waktu hampir bersamaan, hujan deras sejak Sabtu (21/2/2026) memicu banjir bandang di Kabupaten Bima. Enam desa di Kecamatan Sanggar dan Tambora terdampak parah. Di Kecamatan Tambora saja, sedikitnya 140 rumah terendam.
Arus deras mengubah jalan raya menjadi aliran sungai, memutus akses transportasi dan memaksa warga mengungsi. Lumpur dan material kayu terbawa hingga ke permukiman, memperberat proses pembersihan pascabanjir.
Kondisi geografis berbukit, intensitas hujan tinggi, serta terbatasnya sistem drainase mempercepat meluasnya genangan di wilayah ini.
Alarm Serius Mitigasi Bencana
Dua peristiwa ini memperlihatkan pola yang sama: hujan ekstrem berubah menjadi bencana besar karena lemahnya mitigasi struktural.
Di Pasuruan, banjir kiriman dari hulu terus menghantam hilir. Di Bima, kombinasi topografi dan tata kelola lingkungan memperbesar risiko bandang.
Tanpa penguatan tanggul, normalisasi sungai, rehabilitasi kawasan hulu, dan sistem peringatan dini yang efektif, siklus bencana berulang akan terus terjadi.
Hingga laporan ini disusun, belum ada korban jiwa dilaporkan di kedua daerah. Namun ribuan rumah terendam, akses terganggu, dan warga masih membutuhkan bantuan logistik serta pemulihan infrastruktur. (TR Network)


Komentar