WASHINGTON – Enam negara di kawasan Cekungan Kongo resmi menggeber strategi besar untuk mengubah kekayaan hutan tropis mereka menjadi sumber pendapatan berbasis pasar karbon global.
Negara-negara tersebut yakni Cameroon, Central African Republic, Democratic Republic of the Congo, Equatorial Guinea, Gabon, dan Republic of the Congo.
Didukung oleh World Bank, keenam negara tersebut meluncurkan Strategic Roadmaps for Carbon Market and Climate Finance in the Forest Sector for the Congo Basin Countries—sebuah cetak biru untuk membuka akses pembayaran berbasis hasil (results-based payments) dan pendanaan iklim global.
Langkah ini menandai pergeseran besar: dari narasi deforestasi dan degradasi hutan menuju strategi forest-led growth atau pertumbuhan ekonomi berbasis hutan.
Hutan sebagai Aset Finansial, Bukan hanya Paru-Paru Dunia
Cekungan Kongo merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia dan berstatus High Forest, Low Deforestation (HFLD)—artinya memiliki tutupan hutan luas dengan tingkat deforestasi relatif rendah.
Menurut Chakib Jenane, Regional Practice Director Bank Dunia untuk Afrika Barat dan Tengah, hutan di kawasan ini bukan hanya regulator iklim global, tetapi juga aset finansial yang sangat strategis.
“Hutan Cekungan Kongo bukan sekadar penyerap karbon dunia, tetapi juga peluang pembangunan dan aset ekonomi nyata. Peta jalan ini menunjukkan bagaimana modal alam bisa dikonversi menjadi investasi, pendapatan, lapangan kerja hijau, dan ketahanan bagi masyarakat lokal,” tegasnya, pada Senin, 3 Februari 2026.
Dokumen strategis ini dibangun berdasarkan data dari Congo Basin Forest Ecosystem Accounts dan menjadi bagian dari program Analytical and Advisory Services (ASA) Bank Dunia.
Target Besar: Masuk Pasar Karbon Global Sesuai Paris Agreement
Peta jalan tersebut memfokuskan pada kesiapan negara untuk terlibat dalam mekanisme pasar karbon internasional sesuai Paris Agreement, khususnya Pasal 6.2 dan 6.4.
Beberapa langkah strategis yang diprioritaskan antara lain:
– Penyelarasan regulasi nasional dengan mekanisme perdagangan karbon global
– Penguatan sistem Monitoring, Reporting and Verification (MRV) berbasis digital
– Kejelasan hukum dan fiskal atas kredit karbon
– Skema pembagian manfaat yang adil bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat
– Pelibatan sektor swasta untuk investasi jangka panjang
Negara seperti Gabon dan Republik Kongo telah melangkah lebih jauh melalui kesepakatan pembayaran berbasis hasil dan kemajuan REDD+. Sementara Equatorial Guinea dan Republik Afrika Tengah masih dalam tahap awal. Republik Demokratik Kongo dan Kamerun dinilai memiliki peluang besar untuk akselerasi.
Pasar Karbon: Game Changer atau Tantangan Baru?
Cheick Fantamady Kanté, Direktur Divisi Bank Dunia untuk Kamerun, Republik Afrika Tengah, Guinea Khatulistiwa, Gabon, dan Republik Kongo, menegaskan bahwa pasar karbon bisa menjadi pengubah permainan (game-changer)—namun hanya jika tata kelola dan sistem pendukungnya kuat.
“Pasar karbon dapat menjadi lompatan ekonomi bagi negara-negara Cekungan Kongo, tetapi syaratnya jelas: tata kelola yang baik, kepastian hukum, kesiapan institusi, serta manfaat nyata bagi komunitas lokal.”
Konvergensi Agenda Iklim, Ekonomi, dan Lapangan Kerja
Adapun roadmap ini bukan hanya menjadi dokumen teknis, melainkan strategi transformasi ekonomi.
Fokusnya adalah:
– Menciptakan lapangan kerja hijau
– Mengundang investasi iklim jangka panjang
– Mengurangi ketergantungan pada eksploitasi sumber daya ekstraktif
– Meningkatkan ketahanan ekonomi berbasis alam
Jika berhasil, model ini berpotensi menjadi preseden global bagi negara-negara HFLD lainnya—termasuk di Asia dan Amerika Latin.
Dengan hutan tropis sebagai “modal hijau”, Cekungan Kongo kini bersiap menjadikan karbon sebagai komoditas strategis abad ke-21. (TR Network)


Komentar