LONDON – Di tengah percepatan krisis iklim global dan meningkatnya ketergantungan kebijakan pada data ilmiah yang tepercaya, sistem yang memantau kondisi Bumi kini berada di titik krusial.
Dari satelit yang mengorbit ribuan kilometer di atas permukaan hingga stasiun riset di Antartika, jaringan observasi global melacak Essential Climate Variables—mulai dari suhu, kenaikan muka laut, gas rumah kaca, hingga tutupan es—yang menjadi dasar deteksi tren jangka panjang dan mitigasi risiko masa depan.
Pusat Kendali Iklim Dunia Bertemu di Harwell
Pada 24 Februari 2026, para pakar dari badan antariksa, lembaga riset, jaringan pengamatan, dan organisasi internasional berkumpul di European Centre for Space Applications and Telecommunications milik European Space Agency di Harwell, Inggris. Mereka menghadiri pertemuan keempat GCOS-WGClimate Joint Panels Meeting.
Forum ini menjadi ruang evaluasi besar bagi Global Climate Observing System (GCOS)—sistem observasi iklim global yang menjadi tulang punggung data iklim dunia.
Pertemuan tersebut juga melibatkan inisiatif iClimateAction yang berfokus memperkuat integritas dan kesinambungan data iklim lintas sektor.
Fokus utama mereka:
– Apakah cakupan observasi sudah benar-benar global?
– Seberapa aman kesinambungan data satelit dalam jangka panjang?
– Mampukah jaringan pemantauan bertahan dari tekanan pendanaan?
– Apakah data iklim tersimpan, dibagikan, dan diakses secara terbuka dan andal?
Sistem Rapuh di Tengah Revolusi Teknologi
Diskusi di Harwell menyoroti satu kata kunci: kerapuhan.
Sebagian jaringan pengamatan menghadapi tekanan anggaran dan infrastruktur yang menua. Di beberapa wilayah, kesinambungan data bergantung pada segelintir institusi—menciptakan potensi celah dalam rantai nilai observasi iklim global.
Ironisnya, ancaman ini muncul saat teknologi justru berkembang pesat. Generasi baru satelit, tumbuhnya sektor antariksa komersial, serta lompatan dalam pemrosesan data dan kecerdasan buatan membuka peluang revolusioner dalam memahami sistem Bumi.
Namun tanpa koordinasi global yang berkelanjutan, inovasi itu berisiko terfragmentasi.
Paolo Laj, koordinator iClimateAction, menegaskan:
“Tanpa observasi yang berkelanjutan dan terkoordinasi, kita menavigasi perubahan iklim dengan peta yang tidak lengkap. Yang dipertaruhkan adalah kemampuan kita menjaga data tetap kokoh dan tepercaya sebagai dasar pengambilan keputusan.”
Observasi Iklim: Sains Sekaligus Geopolitik
Pertemuan di Harwell dinilai unik karena mempertemukan komunitas yang biasanya bekerja secara terpisah—badan antariksa, jaringan pengamatan darat (in-situ), program riset, layanan operasional, hingga pusat data—untuk melihat sistem secara kolektif, bukan dari kacamata institusional semata.
Tujuannya bukan mempertahankan program masing-masing, melainkan memastikan sistem observasi iklim global berfungsi sebagai barang publik bersama (global public good).
Perspektif ini semakin penting di tengah dinamika geopolitik dan perubahan prioritas anggaran di berbagai negara.
Observasi iklim tidak lagi dipandang sebagai proyek ilmiah semata, tetapi fondasi keamanan ekonomi, ketahanan pangan, dan stabilitas global.
Di bawah payung World Meteorological Organization, sistem ini menjadi salah satu pilar utama dalam memastikan dunia memiliki data yang kredibel untuk menghadapi krisis iklim yang kian tak terelakkan.
Intinya:
Jika sistem observasi global melemah, dunia kehilangan kompas dalam menghadapi perubahan iklim. Pertemuan di Inggris ini menjadi peringatan keras sekaligus momentum untuk memperkuat fondasi data yang menopang keputusan iklim dunia. (AT Network)


Komentar