JAKARTA – Kawasan Asia dan Pasifik berada di ambang kegagalan besar. Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa 88 persen target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tidak akan tercapai pada 2030 jika laju saat ini tidak berubah drastis.
Temuan itu tertuang dalam laporan Asia and the Pacific SDG Progress Report 2026 yang dirilis oleh UN Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP). Dari 117 target terukur dalam 17 tujuan global, 103 target diproyeksikan gagal dicapai.
Target-target tersebut merupakan bagian dari United Nations 2030 Agenda yang diadopsi para pemimpin dunia pada 2015, mencakup penghapusan kemiskinan ekstrem, akses air bersih, pendidikan berkualitas, hingga aksi iklim.
Kontradiksi Pahit: Ekonomi Tumbuh, Lingkungan Hancur
ESCAP menyebut kondisi ini sebagai “kontradiksi yang mencolok.”
Asia-Pasifik memang mencatat kemajuan signifikan dalam:
– Pengurangan kemiskinan
– Akses listrik yang hampir universal
– Penurunan angka kematian ibu dan anak
– Cakupan jaringan seluler yang luas
Namun, semua capaian itu terancam runtuh oleh:
– Lonjakan emisi gas rumah kaca
– Hilangnya keanekaragaman hayati
– Subsidi bahan bakar fosil yang tetap tinggi
– Memburuknya hak dan keselamatan kerja
– Kerugian besar akibat bencana
Sekretaris Eksekutif ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana, menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi yang dulu mengangkat jutaan orang dari kemiskinan kini justru menggerogoti masa depan kawasan.
Kemunduran Lingkungan yang Mengkhawatirkan
Laporan tersebut menunjukkan kemajuan tidak hanya melambat — tetapi mundur — dalam isu-isu krusial seperti: Aksi iklim, Konservasi laut dan Perlindungan keanekaragaman hayati.
Indeks Daftar Merah (Red List Index) menunjukkan percepatan risiko kepunahan spesies. Ekosistem laut berada dalam kondisi “penurunan serius”, kontribusi ekonomi perikanan berkelanjutan menyusut, dan sistem air tawar semakin terancam.
Meski banyak negara telah memiliki strategi pengurangan risiko bencana, kerugian manusia dan ekonomi justru meningkat, menandakan kesenjangan antara kebijakan di atas kertas dan ketahanan nyata di lapangan.
Ketimpangan dan Kualitas Pendidikan Memburuk
Di sisi sosial, ketimpangan pendapatan tetap tinggi.
– Distribusi pendapatan stagnan
– Porsi pendapatan tenaga kerja menurun
– Hak-hak buruh mengalami kemunduran
– Pekerjaan informal dan pengangguran muda masih tinggi
– Akses pendidikan memang meningkat, tetapi hasil pembelajaran merosot, terutama dalam literasi membaca dan matematika.
Krisis Data Hambat Kebijakan
Sekitar 55 persen indikator SDGs kini memiliki data yang cukup — lebih baik dari rata-rata global — namun celah besar masih ada, terutama pada:
– Kesetaraan gender (SDG 5)
– Perdamaian, keadilan, dan kelembagaan (SDG 16)
Keterbatasan data ini membuat pemerintah kesulitan memastikan apakah kelompok paling rentan benar-benar terjangkau.
Waktu Kian Menipis
Dengan hanya lima tahun tersisa menuju 2030, ESCAP menegaskan bahwa perubahan bertahap tidak lagi cukup.
“Lintasan pembangunan saat ini tidak berkelanjutan, dan jendela untuk koreksi semakin cepat tertutup.”
Asia-Pasifik kini di persimpangan sejarah: melanjutkan model pertumbuhan lama yang merusak, atau melakukan transformasi besar menuju ekonomi hijau, inklusif, dan tangguh.
Jika tidak, dekade kemajuan bisa berubah menjadi dekade kegagalan kolektif terbesar dalam sejarah pembangunan modern. (TR Network)


Komentar