Iklim
Beranda / Iklim / Asia Selatan Terpanggang Suhu 50°C, Kematian Tembus 200 Ribu per Tahun

Asia Selatan Terpanggang Suhu 50°C, Kematian Tembus 200 Ribu per Tahun

Warga di India berbagi air untuk melepas Dahaga menyusul gelombang panas yang melanda wilayah itu. File WMO

MUMBAI – Asia Selatan kian membara. Suhu pra-monsun di India dan Pakistan rutin menembus 50°C, sementara korban jiwa akibat panas ekstrem di kawasan ini diperkirakan melampaui 200.000 kematian per tahun.

Di tengah ancaman yang kian brutal terhadap kesehatan dan ekonomi, tiga kekuatan global—World Meteorological Organization (WMO), World Health Organization (WHO), serta filantropi raksasa The Rockefeller Foundation dan Wellcome—meluncurkan dua inisiatif regional besar untuk mengubah sains iklim menjadi aksi penyelamatan nyawa.

Pengumuman dilakukan dalam ajang Mumbai Climate Week, 20 Februari 2026, menandai babak baru respons terintegrasi menghadapi krisis panas ekstrem—ancaman yang kini disebut sebagai salah satu risiko kesehatan paling mematikan di abad ke-21.

Dua Senjata Baru Lawan Panas Ekstrem

Dua inisiatif yang diluncurkan merupakan bagian dari Program Gabungan Iklim dan Kesehatan WHO–WMO:

1. South Asia Climate–Health Desk

Korupsi Timah dan Ekosida Bangka: Negara Rugi Rp4,16 Triliun, Ekologi Hancur Total

Unit ini dibentuk bersama Indian Institute of Tropical Meteorology (IITM) dan India Meteorological Department (IMD). Tujuannya jelas: menerjemahkan data cuaca dan iklim menjadi keputusan cepat yang melindungi kesehatan publik.

Meja koordinasi ini akan memperkuat:

– Sistem peringatan dini gelombang panas
– Penilaian risiko kesehatan berbasis data
– Alat bantu pengambilan keputusan bagi pemerintah

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa setiap kematian akibat panas berlebih sebenarnya bisa dicegah jika sistem peringatan dan rencana aksi berjalan efektif.

2. South Asia Scientific Research Consortium

Bencana Tanah Bergerak Hancurkan 900 Rumah di Tegal, Kehidupan Warga Lumpuh

Didukung hibah Rockefeller Foundation kepada Indian Institute of Science Education and Research Pune (IISER Pune), konsorsium ini akan memperdalam riset dampak panas pada berbagai kelompok rentan—anak-anak, lansia, pekerja luar ruang, ibu hamil, dan komunitas berpenghasilan rendah.

Targetnya:

– Menetapkan ambang risiko panas yang lebih presisi
– Memperkuat rencana aksi panas (heat action plan)
– Mengintegrasikan sains ke kebijakan publik

Fakta Mengerikan: 247 Miliar Jam Kerja Hilang

Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Tekanan terhadap sistem kesehatan dan ekonomi makin berat.

Data Lancet Countdown mencatat, pada 2024 saja menunjukkan:

Transisi Energi Masuk Laut: Kapal Tangkap Ramah Lingkungan Siap Diluncurkan

– India kehilangan 247 miliar jam kerja potensial akibat paparan panas
– Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai US$194 miliar

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres bahkan menyerukan aksi global mendesak menghadapi lonjakan suhu ekstrem yang semakin mematikan.

Investasi US$11,5 Juta untuk Revolusi Kesehatan Iklim

Rockefeller Foundation dan Wellcome menggelontorkan investasi senilai US$11,5 juta guna memperluas aksi kesehatan berbasis iklim di wilayah rentan.

Menurut Dr. Naveen Rao dari Rockefeller Foundation, pendekatan kesehatan publik “business-as-usual” sudah tidak memadai menghadapi gelombang panas yang makin ganas. Dibutuhkan sistem kesehatan tangguh dan siap iklim (climate-ready health system).

Sementara Dr. Alan Dangour dari Wellcome menekankan pentingnya solusi berbasis sains yang tidak hanya membangun ketahanan, tetapi juga memangkas emisi.

Asia Selatan Jadi Laboratorium Global

Peluncuran dua inisiatif ini menempatkan Asia Selatan sebagai pelopor pendekatan terintegrasi iklim dan kesehatan—menghubungkan riset, pemantauan cuaca, peringatan dini, dan respons medis dalam satu ekosistem kebijakan.

Dengan populasi terbesar di dunia dan risiko panas ekstrem yang terus meningkat, kawasan ini kini menjadi medan uji bagi model kolaborasi sains dan kebijakan yang bisa direplikasi secara global.

Pertanyaannya: mampukah sains bergerak lebih cepat dari panas yang terus membunuh? (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *