News
Beranda / News / Bencana Iklim Mengancam Masa Depan Bali

Bencana Iklim Mengancam Masa Depan Bali

Awan gelap menggantung di atas lanskap Bali, menyelimuti pura dan perairan dengan bayang-bayang badai—pertanda ancaman krisis iklim yang kian nyata di Pulau Dewata. Foto Ilustrasi

DENPASAR — Bali tak lagi seindah popularitasnya sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Rentetan bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang kian intens menjadi sinyal keras bahwa Pulau Dewata sedang berada dalam fase darurat iklim.

Lonjakan korban jiwa dan kerugian ekonomi ratusan miliar rupiah mempertegas ancaman nyata terhadap masa depan Bali.

Para pemuka agama lintas iman pun angkat suara. Mereka menilai krisis ini bukan hanya persoalan alam, tetapi krisis moral yang menuntut tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.

“Iman tidak boleh berhenti pada ritual. Ia harus menjadi kekuatan yang melindungi manusia dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” tegas Hening Parlan, Direktur GreenFaith Indonesia, dalam pertemuan lintas agama di Denpasar.

Padang Lamun: Harta Karun Tersembunyi di Dasar Laut, Ini Manfaatnya

Menurutnya, setiap agama memiliki landasan teologis kuat untuk membela lingkungan.

Dalam Hindu dikenal konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmoni manusia dengan alam.

Dalam Islam terdapat ajaran khalifah yang menegaskan tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi.

Kekristenan mengajarkan panggilan merawat ciptaan, sementara Buddhisme menekankan welas asih terhadap seluruh makhluk hidup.

Data Bencana Meningkat Tajam

Sepanjang Januari–Oktober 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat sekitar 50 kejadian bencana, didominasi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Sebanyak 41 orang meninggal dunia, 18 orang luka-luka, 812 warga terdampak atau mengungsi. Kerugian ekonomi mencapai Rp145,4 miliar.

Diburu Negara: Pedagang Sisik Trenggiling di Sintang Terancam 15 Tahun Penjara

Angka ini melonjak drastis dibandingkan 2024 yang mencatat kerugian sekitar Rp11,8 miliar. Peningkatan tajam tersebut menjadi indikator bahwa dampak perubahan iklim di Bali semakin nyata.

Cuaca Ekstrem dan Ancaman Masa Depan

Curah hujan tinggi dalam durasi singkat memicu banjir di kawasan perkotaan dan longsor di daerah perbukitan. Infrastruktur kewalahan, permukiman terendam, dan aktivitas ekonomi—termasuk sektor pariwisata—ikut terdampak.

Para tokoh lintas iman menegaskan, solusi tak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Diperlukan aksi bersama, mulai dari pengelolaan sampah yang lebih baik, perlindungan hutan dan daerah resapan air, hingga perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Spiritualitas Jadi Kekuatan Perubahan

Gerakan lintas agama di Bali kini mendorong rumah-rumah ibadah menjadi pusat edukasi iklim dan advokasi kebijakan publik yang berpihak pada lingkungan. Pesannya jelas: menjaga Bali berarti menjaga kehidupan.

Jika darurat iklim ini diabaikan, bukan hanya ekosistem yang terancam, tetapi juga identitas dan keberlanjutan Pulau Dewata sebagai warisan budaya dan alam dunia.

PBB Soroti Mamuju: Paparan Radiasi Alam Tertinggi di Dunia

Bali kini berada di persimpangan—bertindak sekarang atau menanggung risiko yang jauh lebih besar di masa depan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *