JAKARTA – Di tengah isu krisis iklim dan deforestasi global, nama Brunei Darussalam justru bersinar sebagai salah satu negara paling hijau di dunia.
Data tutupan hutan dari World Bank menunjukkan bahwa Brunei memiliki tutupan hutan mencapai 71,4% dari total wilayahnya — jauh di atas banyak negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Fakta ini menempatkan Brunei sebagai barometer keberhasilan menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mempertahankan kemakmuran ekonomi berbasis sumber daya alam.
Kota Bandar Sri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam. Arsip
Daftar Negara dengan Tutupan Hutan Tertinggi di Dunia
Berdasarkan data World Bank, tercatat 10 negara dengan persentase tutupan hutan tertinggi di dunia: Suriname – 94,6%, Micronesia – 91,7%, Seychelles – 88,5%, American Samoa – 88,2%, Palau – 87,6%, Bhutan – 85,8%, Gabon – 85,4%, Solomon Island – 78,7%, Guyana – 77,2% dan St Lucia – 77%.
Meski tidak masuk 10 besar dunia, Brunei Darussalam dengan 71,4% tutupan hutan tetap unggul dibanding banyak negara lain, termasuk Indonesia (sekitar 51,4%) dan Malaysia (61,7%).
Mengapa Brunei Layak Disebut Negara Paling Hijau di Asia Tenggara?
1. Hutan Tropis yang Masih Perawan
Sebagian besar wilayah Brunei masih berupa hutan hujan tropis alami, termasuk kawasan konservasi seperti Ulu Temburong National Park yang menjadi ikon ekowisata Borneo.
Keanekaragaman hayati di wilayah ini termasuk yang terkaya di dunia, menjadikan Brunei sebagai benteng terakhir ekosistem hutan tropis Kalimantan yang relatif utuh.
Negeri hijau Brunei Darussalam. Arsip
2. Negara Muslim Makmur dengan Stabilitas Tinggi
Brunei Darussalam adalah negara monarki Islam yang dipimpin oleh Hassanal Bolkiah. Sistem pemerintahannya dikenal sebagai Melayu Islam Beraja (MIB) — perpaduan tradisi Melayu, nilai Islam, dan monarki.
Brunei termasuk salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, didukung oleh sektor minyak dan gas bumi.
Pemerintah menyediakan: Pendidikan gratis, Layanan kesehatan gratis, Subsidi perumahan hingga Dukungan finansial pernikahan bagi warganya.
Dengan populasi relatif kecil dan tata kelola ketat, negara ini mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
3. Bandar Seri Begawan: Kota Hijau yang Tenang
Ibu kota Bandar Seri Begawan dikenal bersih, tertata, dan minim polusi.
Beberapa ikon utama Brunei antara lain:
– Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien — mahakarya arsitektur Islam Asia Tenggara
– Kampong Ayer — desa terapung berusia ratusan tahun, dijuluki “Venesia dari Timur”
– Istana Nurul Iman — salah satu istana terbesar di dunia
Kehidupan di kota ini berjalan tenang, tertib, dan religius. Penjualan alkohol dilarang, dan wisatawan diminta menghormati norma berpakaian saat mengunjungi masjid.
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Arsip
Kontras dengan Tren Deforestasi Regional
Jika dibandingkan dengan beberapa negara Asia Tenggara lain yang mengalami penurunan tutupan hutan dalam dua dekade terakhir, Brunei justru berhasil mempertahankan stabilitas ekologisnya.
Keberhasilan ini didukung oleh: Skala negara yang kecil, Kontrol ketat tata ruang, Minim ekspansi industri berbasis lahan, Ketergantungan ekonomi pada minyak dan gas lepas pantai.
Namun tantangan tetap ada, terutama transisi energi global dan kebutuhan diversifikasi ekonomi.
Pelajaran dari Brunei: Lingkungan dan Kemakmuran Bisa Berjalan Bersama
Brunei Darussalam menunjukkan bahwa kelestarian hutan, stabilitas politik, dan kesejahteraan sosial bukanlah hal yang saling bertentangan.
Di saat banyak negara menghadapi tekanan eksploitasi sumber daya, Brunei tampil sebagai contoh bagaimana konservasi dapat menjadi fondasi identitas nasional sekaligus daya tarik wisata berkelanjutan.
Jika tren global terus bergerak menuju ekonomi hijau, bukan tidak mungkin Brunei akan semakin menonjol sebagai model negara kecil dengan dampak besar dalam menjaga paru-paru dunia. (Newsroom)
