Riset
Beranda / Riset / Bumi Makin Membara: Ulah Manusia Lampaui Dampak Bencana Alam

Bumi Makin Membara: Ulah Manusia Lampaui Dampak Bencana Alam

Pemanasan global. Ilustrasi

NORWICH — Di tengah meningkatnya suhu global dan rekor panas yang terus pecah, penelitian terbaru menegaskan satu hal krusial: pemanasan global lebih dominan dipicu aktivitas manusia, bukan peristiwa alam seperti letusan gunung berapi atau kebakaran hutan besar.

Ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan University of East Anglia (UEA) memastikan bahwa sejumlah fenomena alam ekstrem dalam tiga dekade terakhir tidak menjadi penyebab percepatan pemanasan Bumi.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Proceedings of the National Academy of Sciences pekan ini.

Tiga Peristiwa Alam dalam Sorotan

Para peneliti menganalisis dampak tiga peristiwa besar yang sempat mengguncang sistem atmosfer global.

Erupsi Gunung Pinatubo (1991)

Erupsi Gunung Pinatubo di Filipina menyuntikkan sulfur dalam jumlah besar ke stratosfer. Hasilnya justru menunjukkan:

100 GW Energi Surya untuk Indonesia Hemat Subsidi BBM Rp21 Triliun

– Stratosfer menghangat
– Troposfer dan permukaan Bumi mengalami pendinginan sementara

Artinya, letusan besar ini malah memberi efek pendinginan jangka pendek pada permukaan Bumi.

Kebakaran Hutan Australia (2019–2020)

Kebakaran hebat di Australia mengirimkan partikel asap hingga ke stratosfer. Dampaknya:

– Pemanasan signifikan di lapisan atas atmosfer
– Namun tidak ada sinyal pendinginan troposfer selama dua tahun setelah kejadian

Dengan kata lain, peristiwa ini tidak menjelaskan lonjakan suhu permukaan global dalam beberapa tahun terakhir.

Gagal Panen Imbas Emisi Karbon, Petani Gugat Perusahaan Listrik Negara

Erupsi Bawah Laut Hunga Tonga (2022)

Letusan Hunga Tonga pada 2022 menyuntikkan uap air dalam jumlah besar ke stratosfer.

Meski berdampak dramatis pada lapisan atmosfer atas, penelitian tidak menemukan bukti kuat bahwa peristiwa ini menjadi penyebab percepatan pemanasan permukaan Bumi secara global.

Analisis Statistik Perkuat Kesimpulan

Yaowei Li, ilmuwan tamu di MIT sekaligus salah satu penulis studi, menegaskan bahwa respons iklim terhadap peristiwa alam membantu ilmuwan memisahkan pengaruh alami dan buatan manusia.

“Tidak seperti pendinginan troposfer saat letusan Pinatubo, kebakaran hutan Australia dan erupsi Hunga Tonga kemungkinan tidak berperan dalam percepatan pemanasan permukaan Bumi beberapa tahun terakhir. Maka pasti ada faktor lain,” ujar Li.

Profesor Susan Solomon dari MIT juga mendorong penggunaan kerangka statistik yang lebih kuat dalam menganalisis dampak peristiwa alam terhadap suhu global.

Dunia Memanas di Musim Semi 2026: La Niña Melemah, Risiko Iklim Mengintai

Rekor Panas Dunia Jadi Bukti

World Meteorological Organization (WMO) mengonfirmasi periode 2023–2025 sebagai tiga tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Bahkan, 11 tahun terakhir merupakan 11 tahun terpanas yang pernah direkam.

Fakta ini mempertegas konsensus ilmiah bahwa:

– Emisi karbon dioksida (CO₂)
– Metana (CH₄)
– Gas rumah kaca lain dari pembakaran bahan bakar fosil menjadi faktor dominan pemanasan global.

Gas-gas tersebut menjebak panas Matahari di atmosfer dan memperkuat efek rumah kaca, akibat aktivitas industri manusia yang berlangsung selama lebih dari satu abad.

Alam Bukan Tersangka Utama

Peristiwa alam memang spektakuler dan berdampak besar pada atmosfer bagian atas. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak cukup kuat untuk menjelaskan lonjakan suhu global ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Sains kembali menegaskan:
Bumi makin membara karena ulah manusia, bukan semata bencana alam. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *