JAKARTA – Krisis iklim kini tidak lagi hanya dipandang sebagai ancaman masa depan.
Panas ekstrem yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil semakin membatasi aktivitas manusia di berbagai belahan dunia, bahkan menggerus waktu hidup yang aman untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Studi terbaru menunjukkan bahwa sepertiga populasi dunia kini tinggal di wilayah yang panasnya sudah membatasi aktivitas manusia secara signifikan.
Kondisi ini membuat aktivitas sederhana seperti pekerjaan rumah tangga, berjalan kaki, atau naik tangga di siang hari pada puncak musim panas menjadi semakin berisiko.
Penelitian tersebut menggabungkan data fisiologi toleransi panas manusia dengan data global selama tujuh dekade mengenai suhu, populasi, dan tingkat pembangunan manusia.
Hasilnya mengungkap tren mengkhawatirkan: semakin panas bumi, semakin sedikit waktu aman bagi manusia untuk beraktivitas.
Lansia Jadi Korban Paling Rentan
Dampak terburuk dirasakan oleh kelompok lanjut usia. Lansia memiliki kemampuan lebih rendah untuk berkeringat dan mengatur suhu tubuh dibandingkan orang yang lebih muda.
Penelitian menunjukkan bahwa orang berusia di atas 65 tahun kini menghadapi sekitar 900 jam setiap tahun ketika panas ekstrem membuat aktivitas luar ruangan menjadi tidak aman. Angka ini melonjak dari sekitar 600 jam pada tahun 1950.
Dengan kata lain, lebih dari satu bulan waktu siang hari dalam setahun kini praktis “hilang” bagi lansia karena suhu yang terlalu panas untuk beraktivitas.
Di sejumlah wilayah tropis dan subtropis, panas bahkan dapat membatasi aktivitas luar ruangan selama seperempat hingga sepertiga tahun.
Negara Miskin Menanggung Beban Terberat
Ironisnya, dampak terparah justru dialami oleh negara dan wilayah yang kontribusi emisinya relatif kecil.
Penduduk di kawasan miskin menghadapi risiko panas ekstrem lebih besar, meskipun emisi gas rumah kaca terbesar justru berasal dari negara kaya dengan konsumsi energi tinggi.
Wilayah yang diperkirakan menghadapi tantangan paling berat meliputi:
– Asia Barat Daya: Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Irak, Oman
– Asia Selatan: Pakistan, Bangladesh, India
– Afrika Barat: Mauritania, Mali, Burkina Faso, Senegal, Djibouti, Niger
Di Amerika Selatan, kerentanan juga terlihat jelas. Penduduk lembah Amazon jauh lebih rentan terhadap panas dibanding masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Andes.
Batas Toleransi Tubuh Manusia
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research: Health ini juga memperkenalkan pendekatan baru untuk mengukur kelayakan huni suatu wilayah terhadap panas ekstrem.
Para peneliti menggunakan satuan MET (Metabolic Equivalent of Task), yang menggambarkan pengeluaran energi tubuh manusia saat melakukan aktivitas.
Orang berusia di bawah 65 tahun masih dapat melakukan aktivitas hingga 3,3 MET—misalnya menyapu lantai atau berjalan dengan kecepatan sedang—tanpa mengalami stres panas serius.
Namun ketika suhu melewati batas tertentu, tubuh manusia tidak lagi mampu menjaga stabilitas suhu inti, sehingga aktivitas fisik menjadi berbahaya.
Krisis Iklim Menggerus Kehidupan Sehari-hari
Temuan ini menunjukkan bahwa krisis iklim tidak hanya memicu bencana besar seperti banjir atau kekeringan, tetapi juga secara perlahan mengurangi ruang hidup manusia sehari-hari.
Jika tren pemanasan global terus berlanjut, para ilmuwan memperingatkan bahwa semakin banyak wilayah di dunia akan menjadi sulit dihuni selama musim panas, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, pekerja luar ruangan, dan masyarakat berpenghasilan rendah. (TR Network)
