JAKARTA – Pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia semakin menunjukkan dampak serius terhadap kehidupan di bumi.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa serangga di wilayah tropis menghadapi ancaman besar akibat peningkatan suhu, bahkan berpotensi mengalami penurunan populasi secara masif.
Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Universitas Würzburg dan Universitas Bremen di Jerman menemukan bahwa hampir setengah populasi serangga di kawasan Amazon, Brasil, berisiko terpapar panas ekstrem akibat perubahan iklim.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa serangga tidak secara otomatis mampu beradaptasi dengan suhu yang semakin tinggi di habitatnya.
Serangga Tropis Sulit Beradaptasi
Penulis utama penelitian, Dr. Kim Holzmann, peneliti di Divisi Ekologi Hewan dan Biologi Tropis Julius-Maximilians-Universität Würzburg, menjelaskan bahwa sebagian serangga di daerah pegunungan masih mampu menyesuaikan diri dengan suhu panas dalam jangka pendek.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada serangga yang hidup di dataran rendah tropis.
Menurut Holzmann, berbagai studi mengenai toleransi panas pada serangga seperti ngengat, lalat, dan kumbang menunjukkan hasil yang bervariasi, tetapi banyak di antaranya memberikan sinyal peringatan serius.
“Evaluasi terkini mengenai toleransi panas serangga memberikan gambaran yang berbeda-beda, namun pada saat yang sama cukup mengkhawatirkan,” ujarnya dilansir dari Phys.org, Kamis (5/3/2026).
Ancaman bagi Ekosistem
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature itu menegaskan bahwa serangga tropis memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang cepat.
Pakar ekologi hewan dari Universitas Bremen, Dr. Marcell Peters, mengatakan bahwa peningkatan suhu global dapat berdampak besar terhadap jumlah serangga, terutama di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti kawasan tropis.
Padahal, serangga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Mereka berfungsi sebagai penyerbuk tanaman, pengurai bahan organik, serta predator alami yang membantu mengendalikan populasi organisme lain.
Jika jumlah serangga menurun drastis, keseimbangan ekosistem dapat terganggu secara luas.
“Jika bumi terus memanas tanpa henti, serangga akan mengalami stres panas yang serius,” kata Peters.
Adaptasi Evolusi yang Terbatas
Para peneliti menjelaskan bahwa kemampuan serangga untuk menahan panas telah terbentuk melalui proses evolusi yang sangat panjang. Karena sifat tersebut sudah tertanam kuat dalam tubuh mereka, serangga tidak dapat dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi secara mendadak.
“Sifat-sifat ini telah terbentuk dalam sejarah evolusi serangga dan sangat sulit diubah dalam waktu singkat,” jelas Peters.
Temuan ini menjadi peringatan penting bagi dunia bahwa krisis iklim tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada organisme kecil yang memegang peran vital dalam keberlangsungan kehidupan di bumi. (TR Network)
