JAKARTA – Hutan tropis Indonesia kini menjadi lahan inovasi bagi kesejahteraan masyarakat, tidak hanya sebagai paru-paru dunia.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan hal ini saat menerima CEO CIRAD, Elisabeth Claverie de Saint-Martin, di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Pertemuan ini menindaklanjuti Declaration of Intent (DoI) on Sustainable Forestry yang ditandatangani Indonesia dan Prancis pada Mei 2025.
Fokus utama kerja sama adalah pengembangan agroforestri, yakni menanam komoditas bernilai ekonomi di bawah tegakan pohon, menjaga hutan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Hingga kini, pemerintah telah membuka 8,33 juta hektar hutan untuk dikelola masyarakat, membentuk 16.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), dan memberikan 1,4 juta SK akses kelola hutan.
“Dengan agroforestri, hutan lestari dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Kita akan membentuk joint working group untuk mengawal program ini bersama CIRAD,” kata Menhut.
CEO CIRAD menekankan potensi ekonomi dan ilmiah hutan tropis Indonesia.
Contohnya, kakao yang tumbuh di bawah tegakan pohon dapat memberikan pendapatan tinggi bagi masyarakat tanpa merusak ekosistem hutan.
Elisabeth menekankan bahwa agroforestri juga diterapkan di Congo Basin dan Amazon, menjadi model global bagi integrasi konservasi dan pertanian berkelanjutan.
Kerja sama Indonesia–CIRAD akan mencakup pengelolaan hutan lestari, konservasi keanekaragaman hayati, restorasi lanskap terdegradasi, perhutanan sosial, bioekonomi sirkular, mitigasi perubahan iklim, dan penguatan posisi di forum internasional.
“Agroforestri adalah jembatan antara hutan lestari dan kesejahteraan masyarakat. Ini bukan teori, tapi praktik nyata yang bisa langsung dirasakan,” ujar Elisabeth.
Pertemuan ini menandai komitmen bersama Indonesia dan Prancis untuk memperkuat ilmu, teknologi, dan praktik agroforestri di Indonesia.
Dengan dukungan CIRAD, Indonesia siap menjadikan hutan tropis sebagai solusi ganda: melindungi alam dan meningkatkan ekonomi masyarakat. (TR Network)


Komentar