Site icon Tropis.id

Dampak Overfishing, Populasi Udang Pedang Samboja di Ambang Krisis

Populasi udang pedang (Mierspenaeopsis hardwickii) terlihat di dasar perairan berpasir. Penelitian terbaru menunjukkan stok udang komersial ini di perairan Samboja, Kalimantan Timur, mengalami tekanan overfishing sejak 2017 sehingga biomassa populasi kini berada di bawah ambang lestari. Foto Arsip

BOGOR – Sebuah penelitian ilmiah terbaru mengungkap fakta mengkhawatirkan tentang kondisi sumber daya perikanan di Kalimantan Timur.

Populasi udang pedang (Mierspenaeopsis hardwickii) di perairan Samboja diduga mengalami tekanan penangkapan berlebih (overfishing) sejak 2017 dan kini berada pada kondisi stok yang semakin menipis.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Pengelolaan Perikanan Tropis (Journal of Tropical Fisheries Management) Vol.10 No.1 tahun 2026, melalui penelitian yang dilakukan oleh Nadya Damayanthi Safitri bersama Ali Mashar dan Rahmat Kurnia dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Penelitian ini menggunakan metode Catch Maximum Sustainable Yield (CMSY) untuk menilai status stok udang pedang di perairan Samboja, Kalimantan Timur. Metode tersebut dikenal efektif untuk menganalisis kondisi stok ikan atau udang di wilayah yang memiliki keterbatasan data perikanan.

Stok Udang Terus Menurun

Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis 13 tahun data tangkapan nelayan (2012–2024) yang diperoleh dari logbook penangkapan udang di wilayah Samboja.

Darurat Laut Dunia: 36 Persen Terumbu Karang Terancam Hilang

Hasil analisis menunjukkan sejumlah indikator penting pengelolaan perikanan, di antaranya:

– MSY (Maximum Sustainable Yield): 1,75 ton per tahun
– Tangkapan tahun 2024: 1,18 ton
– Biomassa aktual (B2024): 4,2 ton
– Biomassa lestari (BMSY): 7,45 ton

Artinya, biomassa udang pedang saat ini hanya sekitar 56 persen dari tingkat yang dianggap berkelanjutan.

Pada saat yang sama, tingkat eksploitasi penangkapan (F2024) mencapai 0,28 per tahun, lebih tinggi dari batas lestari FMSY sebesar 0,23 per tahun.

Kombinasi kedua indikator tersebut menunjukkan kondisi yang serius: stok sudah menurun, tetapi tekanan penangkapan masih terus meningkat.

Studi: Ikan Laut Lebih Rentan Pemanasan Bumi Dibanding Ikan Air Tawar

“Nilai B/BMSY yang lebih kecil dari 1 dan F/FMSY yang lebih besar dari 1 menunjukkan bahwa stok udang pedang di Samboja telah mengalami overfishing,” tulis peneliti dalam laporan tersebut dikutip Minggu (8/3/2026).

Alarm bagi Perikanan Udang Kalimantan Timur

Udang pedang merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi di wilayah pesisir Kalimantan Timur. Spesies ini tersebar luas di kawasan Indo-Pasifik Barat, mulai dari Pakistan hingga Jepang dan Borneo, dan biasanya hidup di dasar perairan berlumpur hingga kedalaman 90 meter.

Perairan Samboja sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah penangkapan udang paling intensif di Kalimantan Timur. Namun ironisnya, hingga saat ini belum ada kebijakan kuota tangkapan yang diterapkan secara resmi.

Kondisi ini berpotensi mempercepat penurunan stok jika tidak segera dikendalikan.

Peneliti Desak Kuota Tangkapan

Para peneliti menegaskan bahwa langkah pengelolaan perikanan berbasis sains harus segera diterapkan untuk mencegah penurunan biomassa yang lebih parah.

Gawat! Mikroplastik Mengendap hingga 2,4 Km di Dasar Laut Indonesia

Rekomendasi utama penelitian ini adalah:

– Penetapan kuota tangkapan udang pedang berbasis riset
– Pengurangan tingkat mortalitas penangkapan
– Pemantauan stok secara berkala

Jika langkah tersebut tidak segera diambil, penurunan stok dikhawatirkan akan semakin sulit dipulihkan, meskipun udang pedang memiliki kemampuan pemulihan populasi yang relatif cepat dibanding beberapa spesies laut lainnya.

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya penggunaan metode CMSY dalam pengelolaan perikanan di negara berkembang seperti Indonesia, terutama di wilayah yang masih kekurangan data stok ikan.

“Informasi status stok yang akurat sangat penting untuk memastikan keberlanjutan perikanan di era ekonomi biru,” tulis peneliti.

Temuan ini menjadi peringatan serius bagi pengelolaan perikanan di Kalimantan Timur, bahwa tanpa regulasi tangkapan yang jelas, eksploitasi sumber daya laut dapat dengan cepat berubah menjadi krisis ekologi dan ekonomi bagi nelayan pesisir. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version