News
Beranda / News / Darurat Limbah Makanan: Indonesia di Peringkat Atas Dunia

Darurat Limbah Makanan: Indonesia di Peringkat Atas Dunia

Tumpukan Limbah Makanan di salah satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Indonesia. Arsip

JAKARTA – Indonesia kembali menjadi sorotan global sebagai salah satu negara penghasil limbah makanan terbesar di dunia.

Berdasarkan data Economist Intelligence Unit (2016), Indonesia menempati posisi kedua dengan produksi sekitar 300 kilogram sampah makanan per orang per tahun, hanya di bawah Arab Saudi yang mencapai 427 kg per orang.

Ketua Tim Penanganan Sampah Institut Teknologi Bandung (ITB), Pandji Prawisudha, mengungkapkan bahwa angka tersebut setara dengan hampir 1 kilogram makanan terbuang setiap hari oleh setiap orang di Indonesia.

“Ini bukan hanya sisa makanan di piring, tetapi juga bahan pangan yang rusak sebelum dikonsumsi, seperti sayur yang layu atau ikan yang membusuk,” jelasnya dalam webinar memperingati International Day of Zero Waste, Senin (30/3) 2026).

26 Juta Ton Sampah, Hampir 40 Persen Makanan

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 mencatat total timbulan sampah Indonesia mencapai 26 juta ton, dengan 39,74 persen di antaranya merupakan sampah makanan. Ini menjadikan limbah makanan sebagai penyumbang terbesar dalam komposisi sampah nasional.

Misteri Laut Rote: 55 Paus Pilot Terdampar di Pantai, Puluhan Mati

Kondisi ini mencerminkan persoalan serius, mulai dari pola konsumsi masyarakat, distribusi pangan yang tidak efisien, hingga minimnya kesadaran dalam pengelolaan makanan.

Plastik Sekali Pakai: Memperparah Krisis

Selain limbah makanan, penggunaan plastik sekali pakai turut memperparah krisis. Kemasan seperti plastik makanan, gelas berlapis, hingga sachet hanya digunakan dalam waktu singkat, namun dapat bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan.

Peningkatan penggunaan plastik bahkan tercatat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa dekade terakhir, dan diperkirakan terus meningkat.

Ketika sampah organik terbungkus plastik, proses penguraiannya terganggu. Alih-alih terurai secara alami, sampah justru membusuk secara anaerob dan menghasilkan gas metana (CH₄)—gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

Ancaman Nyata bagi Iklim dan Kehidupan

Gas metana dari timbunan sampah berpotensi meningkatkan suhu bumi secara signifikan. Dampaknya tidak hanya pada perubahan iklim global, tetapi juga memperburuk kondisi panas ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.

Rakyat Pasuruan Turun ke Jalan: Tolak Alih Fungsi Hutan Arjuno

Jika tidak segera ditangani, krisis limbah makanan dan plastik ini dapat menjadi bom waktu ekologis yang mengancam kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan hidup.

Alarm untuk Perubahan

Fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan krisis sistemik. Diperlukan perubahan besar dalam pola konsumsi, distribusi pangan, serta kebijakan pengelolaan sampah.

Momentum International Day of Zero Waste 2026 menjadi pengingat penting: setiap makanan yang terbuang hari ini adalah ancaman bagi masa depan bumi. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Indonesia-Jepang Kolaborasi Konservasi Satwa Komodo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *