GENEWA – Awal 2026 menandai babak baru krisis iklim global.
Gelombang panas ekstrem, badai musim dingin brutal, hujan dahsyat, hingga kebakaran hutan lintas benua terjadi hampir bersamaan, menelan korban jiwa, merusak lingkungan, dan memukul perekonomian dunia dalam hitungan minggu pertama tahun ini.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan terbarunya pada 10 Februari 2026 menegaskan, rangkaian cuaca ekstrem tersebut kembali menyoroti satu fakta krusial: tanpa prakiraan cuaca yang akurat dan sistem peringatan dini yang kuat, dampak bencana akan terus berlipat ganda.
Januari 2026: Panas Global, Dingin Regional
Menurut Copernicus Climate Change Service (C3S), Januari 2026 tercatat sebagai bulan Januari terpanas kelima dalam sejarah pencatatan global.
Meski Eropa mengalami Januari terdingin sejak 2010 akibat melemahnya pusaran kutub, suhu rata-rata global tetap berada di atas normal—termasuk di Arktik, Greenland, dan Amerika Utara bagian barat.
Fenomena jet stream kutub yang berkelok ekstrem memicu ironi iklim: Eropa dan Amerika Utara membeku, sementara belahan bumi selatan justru terbakar oleh panas mematikan.
Australia, Chile, Patagonia: Api Menggila
Di belahan bumi selatan, panas ekstrem menjadi bahan bakar kebakaran hutan besar-besaran.
Australia mencatat suhu hingga 49,5°C di Ceduna, Australia Selatan—rekor tertinggi setempat.
Chile dilanda kebakaran mematikan di wilayah Biobío dan Ñuble, menewaskan sedikitnya 21 orang dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi.
Patagonia, Argentina, terbakar setelah kombinasi suhu tinggi, kekeringan panjang, dan angin kencang.
Ilmuwan World Weather Attribution menyimpulkan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas Australia 1,6°C lebih panas dibandingkan kondisi alami.
Kutub Melemah, Dunia Membeku
Meski tren global menunjukkan penurunan ekstrem dingin sejak 1950, cuaca ekstrem dingin belum punah.
Melemahnya pusaran kutub menyebabkan udara Arktik menyembur ke lintang menengah:
– Amerika Utara dilanda badai salju besar, pemadaman listrik massal, dan korban jiwa.
– Kamchatka, Rusia, menerima lebih dari 5,7 meter salju hanya dalam dua bulan.
– Jepang mencatat kedalaman salju hingga 1,7 meter, tertinggi dalam 40 tahun.
Afrika Selatan & Mozambik Tenggelam
Hujan ekstrem memicu banjir besar di Afrika bagian selatan:
– Mozambik terdampak paling parah, dengan 650.000 orang terdampak, ratusan ribu mengungsi, dan puluhan ribu rumah rusak.
– Afrika Selatan menetapkan status bencana nasional setelah sedikitnya 30 orang tewas.
Studi atribusi cuaca menyebut perubahan iklim dan La Niña menciptakan “badai sempurna”, dengan intensitas hujan meningkat hingga 40% dibanding era praindustri.
Indonesia Tak Luput
Di Indonesia, hujan lebat memicu longsor di Jawa Barat pada 24 Januari yang menewaskan lebih dari 50 orang.
WMO menekankan bahwa tragedi ini bukan sekadar soal cuaca, tetapi juga kombinasi faktor geologi dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.
Peringatan Dini Jadi Kunci
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan bahwa cuaca ekstrem kini konsisten menjadi risiko global utama.
“Jumlah orang yang terdampak bencana cuaca terus meningkat setiap tahun. Inilah alasan kami mempercepat inisiatif Early Warnings for All—karena kematian akibat bencana enam kali lebih rendah di negara dengan sistem peringatan dini yang baik,” ujarnya.
WMO bersama lembaga meteorologi nasional terus memperkuat peringatan dini multi-bahaya, termasuk untuk panas ekstrem, badai musim dingin, banjir, dan kebakaran hutan. (TR Network)
