VIENNA – Langkah Indonesia di panggung global kembali mencuri perhatian.
Dalam forum bergengsi Global Summit: Advancing Sustainable Forest-Based Bioeconomy Approaches di Vienna, Austria, delegasi Indonesia menawarkan konsep Multi Usaha Kehutanan (MUK) sebagai jawaban atas masa depan bioekonomi dunia berbasis hutan lestari.
Strategi ini dipresentasikan sebagai transformasi konkret pengelolaan hutan Indonesia menuju model ekonomi modern yang tidak lagi semata bergantung pada kayu, melainkan mengoptimalkan seluruh potensi ekosistem hutan secara berkelanjutan.
Indonesia Pamer Strategi Baru di Austria
Dalam Country Report Indonesia, Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan (IPHH) Krisdianto menegaskan bahwa penguatan bioekonomi hutan kini memiliki fondasi hukum kuat melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 (UU Cipta Kerja).
“Manfaat hutan tidak lagi hanya bertumpu pada hasil kayu, tetapi juga hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan hingga wisata alam. Melalui kerangka Multi Usaha Kehutanan (MUK), seluruh pemanfaatan telah terintegrasi dalam Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH),” tegas Krisdianto di Vienna.
Transformasi ini juga diikuti dengan revisi Rencana Kerja Usaha (RKU) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) oleh pemegang izin guna memaksimalkan potensi ekonomi hutan secara inklusif.
Hutan Bukan Sebatas Kayu: Model Baru Bioekonomi
Konsep Multi Usaha Kehutanan (MUK) mendorong pendekatan terpadu, mencakup:
– Hasil hutan kayu dan non-kayu
– Jasa lingkungan (karbon, air, ekowisata)
– Wisata alam dan pemberdayaan masyarakat
– Sistem traceability rantai pasok
Pendekatan ini selaras dengan prinsip Sustainable Forest Management dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia.
Vienna Call for Actions: Indonesia Ambil Peran Strategis
Pertemuan tingkat tinggi ini dibuka oleh Menteri Federasi Pertanian dan Kehutanan Austria, Norbert Totschnig, yang menekankan bahwa hutan menjadi kunci menjawab krisis iklim dan transisi menuju bioekonomi rendah karbon.
Forum ini dihadiri 60 negara dan 120 organisasi internasional, termasuk: Food and Agriculture Organization (FAO), United Nations Forum on Forests (UNFF), International Tropical Timber Organization (ITTO).
Indonesia bersama Finlandia, Jepang, dan Australia menyepakati pentingnya:
– Konstruksi kayu sebagai solusi rendah karbon
– Penguatan nilai tambah hasil hutan non-kayu
– Instrumen pembiayaan inovatif dan kemitraan publik-swasta
– Traceability untuk meningkatkan kepercayaan pasar global
Dokumen strategis Vienna Call for Actions dan Co-Chairs Summary akan dibawa ke pertemuan United Nations Forum on Forests ke-21 pada Mei 2026 serta Committee on Forestry ke-28 pada September 2026.
Indonesia Pertegas Posisi di Peta Bioekonomi Dunia
Keikutsertaan aktif Indonesia dalam forum ini mempertegas posisinya sebagai pemain kunci dalam transformasi bioekonomi global. Konsep Multi Usaha Kehutanan menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan beriringan dengan pelestarian hutan dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Di tengah tekanan perubahan iklim dan tuntutan pasar global terhadap produk berkelanjutan, Indonesia tampaknya tidak ingin hanya ikut arus — tetapi mulai membentuk arah.
Memahami Bioekonomi? Strategi Ekonomi Masa Depan Berbasis Alam
Bioekonomi adalah model ekonomi yang memanfaatkan sumber daya hayati terbarukan — seperti hutan, pertanian, perikanan, dan biomassa — untuk menghasilkan pangan, energi, material, dan produk industri secara berkelanjutan.
Sederhananya, bioekonomi adalah upaya mengganti ketergantungan pada sumber daya fosil dengan sumber daya biologis yang bisa diperbarui, tanpa merusak lingkungan.
Mengapa Bioekonomi Penting?
Di tengah krisis iklim dan keterbatasan energi fosil, bioekonomi menawarkan:
– Pengurangan emisi karbon
– Pemanfaatan sumber daya terbarukan
– Penciptaan lapangan kerja hijau
– Pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati
Model ini banyak didorong dalam forum global seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United Nations Forum on Forests (UNFF).
Contoh Bioekonomi Berbasis Hutan
Dalam konteks kehutanan, bioekonomi tidak hanya soal kayu. Konsep seperti Multi Usaha Kehutanan (MUK) yang didorong Indonesia mencakup:
– Kayu untuk konstruksi rendah karbon
– Hasil hutan bukan kayu (rotan, damar, madu, atsiri)
– Jasa lingkungan (karbon, air, ekowisata)
– Biomassa untuk energi terbarukan
Ini sejalan dengan prinsip Sustainable Forest Management (pengelolaan hutan lestari).
Perbedaan Bioekonomi dan Ekonomi Konvensional
Ekonomi Konvensional
– Bergantung pada fosil
– Produksi linear (ambil–pakai–buang)
– Fokus pertumbuhan cepat
Bioekonomi
– Berbasis sumber daya hayati
– Sirkular dan berkelanjutan
– Fokus keseimbangan ekonomi–ekologi
Tantangan Bioekonomi
– Kepastian hukum danBioekonomi
– Teknologi pengolahan biomassa
– Sistem traceability rantai pasok
– Pembiayaan hijau
Namun jika dikelola dengan benar, bioekonomi bisa menjadi tulang punggung ekonomi rendah karbon masa depan. (TR Network)


Komentar