JAKARTA — Status Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia kembali diuji.
Pasalnya, empat primata endemik Tanah Air resmi masuk dalam daftar spesies paling terancam punah secara global.
Penyebab utamanya jelas: deforestasi, konversi lahan, fragmentasi hutan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal yang terus menekan habitat alami primata Indonesia.
Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam situasi darurat primata, di tengah laju kehilangan hutan yang belum menunjukkan tanda melambat.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, menegaskan primata memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan hutan hujan tropis, terutama sebagai penyebar biji utama yang menopang regenerasi alami hutan. Keberadaan primata juga menjadi indikator penting kesehatan ekosistem.
“Fragmentasi hutan membuat populasi primata terisolasi, sementara konflik manusia dan satwa meningkat seiring menyusutnya habitat. Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk memperlambat laju kepunahan,” ujar Dolly dalam pernyataan tertulis, dikutip Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, peringatan Hari Primata Indonesia setiap 30 Januari harus dimanfaatkan sebagai momentum mendorong kolaborasi multipihak berbasis konsep pentahelix guna memperkuat upaya perlindungan primata dan habitatnya.
Indonesia, Episentrum Primata Dunia yang Terancam
Berdasarkan Mammal Diversity Database 2025, Indonesia memiliki 66 jenis primata, atau sekitar 12,8 persen dari total primata dunia—terbanyak ketiga setelah Brasil dan Madagaskar. Namun, kekayaan ini berbanding terbalik dengan tingkat ancaman yang dihadapi.
Data IUCN Red List mencatat:
– 12 spesies berstatus Critically Endangered
– 25 spesies Endangered
– 26 spesies Vulnerable
– 1 spesies Near Threatened
– 2 spesies Data Deficient
Situasi ini diperkuat oleh laporan Primates in Peril 2023–2025 yang dirilis IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild, yang menempatkan empat primata Indonesia dalam kategori paling kritis dan membutuhkan tindakan konservasi segera.
Empat Primata Indonesia di Ambang Kepunahan
1. Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)
Orangutan tapanuli merupakan spesies kera besar yang baru dipisahkan dari orangutan Sumatera pada 2017. Menurut IUCN, spesies ini berstatus Critically Endangered dan masuk Appendix I CITES.
Pemerintah Indonesia memperkirakan populasinya hanya 577–760 individu, berdasarkan SRAK Orangutan 2019–2029. Habitatnya terbatas di Lanskap Batang Toru, Sumatera Utara, dengan luasan efektif sekitar 138.435 hektare atau hanya 49 persen dari kawasan total.
Habitat tersebut terfragmentasi menjadi tiga blok besar, meningkatkan risiko isolasi populasi dan kepunahan.
2. Simakobu (Simias concolor)
Simakobu adalah primata endemik Kepulauan Mentawai yang tersebar di Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Sejak 1980, populasinya menurun hingga 75 persen akibat deforestasi, degradasi habitat, dan perburuan.
Saat ini, jumlah simakobu diperkirakan hanya 6.700–17.300 individu, berstatus Critically Endangered menurut IUCN dan masuk Appendix I CITES.
3. Lutung Sentarum (Presbytis chrysomelas)
Lutung sentarum kini hanya menempati sekitar 5 persen dari sebaran historisnya di wilayah barat laut Borneo. Habitatnya mencakup hutan dataran rendah, rawa, gambut, dan mangrove.
Populasinya diperkirakan tersisa 200–500 individu dan berstatus Critically Endangered. Ironisnya, hingga kini spesies ini belum masuk daftar satwa dilindungi di Indonesia, meski tekanannya terus meningkat.
4. Tarsius Sangihe (Tarsius sangirensis)
Tarsius sangihe hanya hidup di Pulau Sangihe dan merupakan salah satu dari 12 jenis tarsius di dunia. Primata nokturnal pemakan serangga ini dikenal dengan mata besar dan kemampuan memutar kepala hampir 180 derajat.
Populasinya diperkirakan tinggal sekitar 464 individu. Spesies ini berstatus Endangered menurut IUCN dan telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.
Perlombaan dengan Waktu
Para peneliti memperingatkan, tanpa percepatan perlindungan habitat, moratorium deforestasi yang efektif, serta penguatan penegakan hukum terhadap perburuan dan perdagangan ilegal, tekanan terhadap primata Indonesia akan terus meningkat.
Jika krisis ini dibiarkan, Indonesia berisiko bukan hanya kehilangan primata endemik, tetapi juga kehilangan fungsi ekologis hutan tropis yang menopang ketahanan lingkungan, iklim, dan kehidupan manusia. (TR Network)
