JAKARTA – Indonesia pernah dinobatkan sebagai negara dengan jumlah kawasan lindung “tidak tergantikan” terbanyak di dunia berdasarkan riset jurnal Science (2013).
Kini, lebih dari satu dekade kemudian, hasil riset terbaru 2024–2025 justru mempertegas urgensi perlindungan kawasan-kawasan tersebut—bukan hanya di Indonesia, tetapi secara global.
Riset Global Terbaru: Ancaman Belum Mereda
Studi mutakhir bertajuk Conservation Imperatives (2024–2025) yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Science mengidentifikasi 16.825 lokasi kritis di seluruh dunia yang menjadi habitat penting spesies langka dan terancam punah—dan sebagian besar belum memiliki perlindungan memadai.
Beberapa temuan kunci:
– Hanya sekitar 1,2% daratan global yang perlu segera diamankan untuk mencegah kepunahan besar-besaran.
– Sekitar 38% lokasi prioritas berada berdekatan dengan kawasan lindung yang sudah ada—artinya perluasan kawasan bisa menjadi solusi strategis.
– Sebagian besar lokasi penting berada di wilayah tropis, termasuk Asia Tenggara.
Temuan ini memperluas cakupan riset 2013 yang sebelumnya mengidentifikasi 137 kawasan paling tak tergantikan di dunia—delapan di antaranya berada di Indonesia.
Indonesia Tetap Jadi Episentrum Biodiversitas
Delapan kawasan Indonesia yang pernah masuk daftar “irreplaceable sites” global meliputi:
1. Taman Nasional Lorentz (Papua)
2. Ekosistem Leuser (Sumatera)
3. Suaka Margasatwa Karakelang (Sulawesi Utara)
4. Taman Nasional Lore Lindu (Sulawesi Tengah)
5. Taman Nasional Manusela (Maluku)
6. Cagar Alam Pulau Yapen Tengah (Papua)
7. Taman Nasional Siberut (Sumatera Barat)
8. Cagar Alam Wondiwoi (Papua Barat)
Data kekayaan hayati Indonesia masih menunjukkan posisi strategis:
– 12% spesies mamalia dunia (36% endemik)
– 1.519 spesies burung (28% endemik)
– 16% reptil dan amfibi global
– 25% spesies ikan dunia di perairan pesisir
Namun, tingginya kekayaan ini juga berarti tingkat kerentanan yang besar, terutama akibat deforestasi, fragmentasi habitat, ekspansi tambang, dan proyek infrastruktur.
Penemuan Spesies Baru: Alarm Tambahan
Sepanjang 2024, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan penemuan 98 taksa organisme baru, menandakan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia belum sepenuhnya terpetakan.
Temuan ini mengandung dua pesan penting:
1. Indonesia masih menyimpan potensi biodiversitas luar biasa.
2. Banyak spesies mungkin terancam bahkan sebelum sempat teridentifikasi secara ilmiah.
Setengah Situs Penting Dunia Belum Terlindungi
Penelitian lain dalam jurnal Conservation Biology mengungkap bahwa sekitar 54% lokasi penting biodiversitas global belum diidentifikasi secara formal sebagai kawasan konservasi (Key Biodiversity Areas).
Artinya, daftar kawasan “tak tergantikan” kemungkinan masih bertambah—dan Indonesia berpotensi menyumbang lebih banyak lokasi kritis.
Status Lindung Belum Jaminan Aman
Walaupun sejumlah kawasan Indonesia telah berstatus taman nasional atau cagar alam, tantangan tetap besar:
– Kekurangan anggaran dan pengawasan
– Perburuan liar
– Perubahan tata ruang
– Tekanan industri ekstraktif
Riset terbaru mempertegas bahwa perlindungan hukum saja tidak cukup—yang dibutuhkan adalah penguatan tata kelola, pendanaan berkelanjutan, serta integrasi konservasi dalam kebijakan pembangunan nasional.
Taruhan Indonesia di Panggung Global
Riset 2025 memperjelas satu hal: dunia hanya membutuhkan sebagian kecil wilayah daratan untuk menyelamatkan sebagian besar spesies terancam. Dan Indonesia berada di pusat pertaruhan itu.
Jika delapan kawasan “tak tergantikan” tersebut diperkuat perlindungannya, Indonesia bukan hanya mempertahankan reputasi sebagai megabiodiversity country—tetapi juga menjadi garda depan penyelamatan spesies dunia.
Sebaliknya, kegagalan menjaga kawasan ini berarti kehilangan yang tak akan pernah tergantikan—bagi Indonesia dan bagi planet ini. (TR Network)


Komentar