JAKARTA – Indonesia mulai serius mengamankan masa depan industri rare earth atau logam tanah jarang (LTJ) dengan pendekatan berbasis riset ketenaganukliran.
Dalam konteks itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sepakat memperkuat sinergi strategis dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau PERMINAS untuk mempercepat hilirisasi rare earth nasional yang selama ini masih tertinggal di rantai pasok global.
Langkah konkret tersebut ditandai dengan kunjungan PERMINAS bersama Badan Industri Mineral (BIM) ke fasilitas riset ketenaganukliran BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Tangerang Selatan, Senin (9/2/2026).
Kunjungan ini menegaskan keseriusan negara dalam menguasai teknologi pengolahan logam tanah jarang berbasis nuklir, terutama yang berasal dari mineral radioaktif.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah fasilitas unggulan BRIN, mulai dari Laboratorium Teknologi Radiasi, reaktor riset, hingga Instalasi Pengelolaan Limbah Radioaktif (IPLR).
Infrastruktur ini menjadi tulang punggung riset dan pengembangan teknologi pemrosesan rare earth yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Direktur Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) BRIN, R. Mohammad Subekti, menegaskan bahwa BRIN membuka akses seluas-luasnya bagi industri strategis nasional untuk memanfaatkan fasilitas riset ketenaganukliran.
“DPFK mengelola 15 fasilitas ketenaganukliran, termasuk tiga reaktor riset dan fasilitas pengolahan limbah radioaktif, yang siap dimanfaatkan untuk mendukung riset dan pengembangan industri rare earth Indonesia,” ujarnya.
Dari sisi industri, Direktur Operasi dan Produksi PERMINAS, Oktoria Masniari, menilai kapabilitas riset BRIN sebagai fondasi penting bagi percepatan hilirisasi logam tanah jarang nasional.
PERMINAS merupakan BUMN yang dibentuk berdasarkan mandat Presiden Republik Indonesia untuk mengelola logam tanah jarang, mineral radioaktif, serta mineral kritis dan strategis, termasuk untuk mendukung industri pertahanan dan teknologi tinggi.
Perusahaan ini berperan mengorkestrasi rantai nilai rare earth secara menyeluruh, mulai dari eksplorasi, pengolahan, hingga komersialisasi.
“Kami berharap kolaborasi dengan BRIN dapat mempercepat lahirnya produk dan solusi industri rare earth yang memenuhi standar ESG, tata kelola perusahaan yang baik, serta mendukung target strategis pemerintah,” kata Oktoria.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Maman Kartaman Ajiriyanto, menyebut kolaborasi ini sebagai momentum krusial untuk menjembatani hasil riset menuju industrialisasi.
“Kami telah lama melakukan riset pengolahan mineral radioaktif dan logam tanah jarang. Dengan hadirnya PERMINAS sebagai BUMN yang mengkomersialisasikan teknologi, kami optimistis Indonesia segera memiliki industri pengolahan rare earth berbasis nuklir sendiri,” jelasnya.
Melalui sinergi BRIN dan PERMINAS, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pembangunan industri rare earth nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral strategis, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global logam tanah jarang yang semakin kompetitif dan geopolitikal. (TR Network)
