JAKARTA – Perlindungan laut yang efektif tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga terbukti mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konservasi laut justru dapat meningkatkan pendapatan sektor pariwisata, terutama dari wisata selam.
Temuan ini diungkap dalam studi yang dilakukan para ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography, University of California San Diego (AS).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan laut yang dikelola dengan baik akan memulihkan populasi ikan dan kesehatan terumbu karang, sehingga meningkatkan daya tarik wisata bawah laut.
Ketika ekosistem pulih dan jumlah ikan kembali melimpah, minat wisatawan untuk melakukan scuba diving ikut meningkat. Dampaknya, pendapatan dari paket wisata selam pun ikut terdongkrak.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Ecological Economics bahkan menyebutkan bahwa lokasi penyelaman yang memiliki perlindungan kuat dapat mengalami lonjakan pendapatan hingga 252 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Biomassa Ikan Jadi Indikator
Untuk mengukur hubungan antara kesehatan laut dan pendapatan wisata, para peneliti menganalisis biomassa ikan di berbagai lokasi dunia sebagai indikator utama kondisi ekosistem.
Data tersebut kemudian dibandingkan dengan harga paket wisata selam di 23 lokasi penyelaman yang tersebar di tiga kawasan samudra. Hasilnya menunjukkan korelasi positif: semakin tinggi biomassa ikan, semakin tinggi pula nilai ekonomi wisata selam di kawasan tersebut.
Salah satu contoh yang diteliti adalah Taman Nasional Cabo Pulmo di Meksiko. Kawasan konservasi laut ini berhasil memulihkan populasi ikan setelah menerapkan perlindungan ketat terhadap aktivitas penangkapan ikan.
Pemulihan ekosistem tersebut kemudian diikuti oleh meningkatnya jumlah penyelam yang datang dari berbagai negara setiap tahunnya.
Perlindungan Lemah, Pendapatan Turun
Namun, penelitian ini juga menemukan fakta sebaliknya. Kawasan yang berstatus dilindungi tetapi memiliki penegakan hukum lemah justru mengalami penurunan kualitas ekosistem.
Ketika populasi ikan terus menurun, daya tarik wisata selam ikut merosot. Akibatnya, pendapatan pariwisata di kawasan tersebut juga mengalami penurunan.
Untuk itu, para peneliti mengembangkan sebuah kerangka kerja ekonomi-ekologi yang memungkinkan pengelola kawasan konservasi maupun investor menghitung potensi keuntungan finansial dari pelestarian laut.
Bisa Hitung Balik Modal Konservasi
Melalui kerangka kerja ini, pengelola dapat memasukkan berbagai data lokal, seperti: biomassa ikan di kawasan setempat, harga dasar paket wisata selam, dan biaya operasional pengawasan dan penegakan aturan.
Data tersebut kemudian digunakan untuk menghitung estimasi return on investment (ROI) serta memperkirakan jangka waktu balik modal dari investasi konservasi.
Para peneliti juga menilai pendekatan ini dapat membantu merancang berbagai instrumen pembiayaan konservasi, termasuk obligasi lingkungan yang pembayarannya dikaitkan dengan pencapaian target ekologis yang telah diverifikasi.
Ekonomi dan Ekologi Bisa Berjalan Bersama
Meski penelitian ini berfokus pada wisata selam, pendekatan yang sama dinilai dapat diterapkan pada berbagai sektor ekonomi yang bergantung pada kesehatan ekosistem.
Penelitian ini dipimpin oleh Fabio Favoretto dari Universitas Plymouth, bersama Matthew J. Forrest dan Octavio Aburto-Oropeza dari Scripps Institution of Oceanography.
Hasil penelitian tersebut mempertegas satu pesan penting: menjaga laut tetap sehat bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan industri pariwisata. (TR Network)
