Site icon Tropis.id

Krisis Ekologi Sungai Mahakam: Negara Perluas Desa Konservasi Pesut

Padatnya lalu lintas kapal tongkang pengangkut batubara membuat ekosistem perairan Sungai Mahakam di Kalimantan Timur itu berada di titik rawan. Akibatnya, spesies Pesut yang hidup di sungai Mahakam makin terancam. Arsip

KUTAI KERTANEGARA — Krisis ekologi Sungai Mahakam kian nyata. Padatnya lalu lintas kapal, tekanan aktivitas industri di sepanjang bantaran sungai, serta beban pencemaran yang terus meningkat membuat ekosistem perairan Kalimantan Timur itu berada di titik rawan.

Di tengah situasi itu, Pesut Mahakam—mamalia air tawar endemik yang kini berstatus kritis—menjadi penanda paling jelas bahwa Mahakam sedang tidak baik-baik saja.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperluas upaya perlindungan dengan menetapkan dua wilayah baru sebagai Desa Konservasi Pesut Mahakam.

Spesies Pesut Mahakam. Arsip

Dua desa yang ditetapkan adalah Desa Muhuran di Kecamatan Kota Bangun dan Desa Sabintulung di Kecamatan Muara, Kabupaten Kutai Kartanegara, melengkapi Desa Pela yang lebih dulu berstatus desa konservasi.

KLH mengumumkan kebijakan ini pada Sabtu (7/2/2026) sebagai bagian dari strategi mencegah kepunahan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) di Kawasan Konservasi Perairan Mahakam—kawasan yang kini berada di bawah tekanan aktivitas manusia yang semakin intens.

Wakatobi–Taka Bonerate–Komodo Saling Terkoneksi: Rahasia Besar Konservasi Laut Indonesia

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH/BPLH Rasio Ridho Sani menegaskan, pesut bukan sekadar satwa dilindungi, melainkan indikator biologis kesehatan Sungai Mahakam.

“Ketika pesut terancam, itu berarti ekosistem sungai sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Menurut Rasio, pelestarian pesut tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat lokal.

KLH menjelaskan, kawasan Sungai dan Danau Mahakam merupakan ekosistem kunci yang menopang kehidupan berbagai spesies lain, seperti bekantan, berang-berang, bangau, dan beragam satwa air.

Namun, tekanan dari transportasi sungai, aktivitas perkebunan dan pertambangan di daerah tangkapan air, serta limbah domestik dan industri terus menggerus kualitas perairan. Jika tidak dikendalikan, tekanan ini berpotensi mempercepat degradasi habitat pesut dan spesies lain.

Keran Air Tanah Ditutup: Gedung-Gedung di Jakarta Resmi Dilarang Sedot Bumi

Selain fungsi ekologis, perairan Mahakam juga berperan strategis dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk pengendalian banjir, penyimpanan karbon, dan menjaga ketahanan ekosistem perairan.

Kerusakan sungai bukan hanya ancaman bagi satwa, tetapi juga bagi keamanan ekologis dan sosial masyarakat yang bergantung pada Mahakam.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan seluruh aktivitas di kawasan Mahakam—mulai dari perikanan, transportasi air, perkebunan, pertambangan, hingga pariwisata—harus dikelola secara lebih ketat dan bertanggung jawab agar tidak memperparah kerusakan habitat pesut.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pengelolaan sampah dan limbah di Sungai dan Danau Mahakam untuk menekan laju pencemaran.

KLH menegaskan membuka akses seluas-luasnya bagi laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran atau perusakan lingkungan di Mahakam.

Dunia Cari Solusi Iklim, Indonesia Duduk di Atas Harta Karbon Biru Lautan

Setiap laporan akan ditindaklanjuti melalui penegakan hukum lingkungan. Pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan biodiversity credit yang berintegritas dan berpihak pada masyarakat lokal sebagai insentif ekonomi berbasis perlindungan keanekaragaman hayati.

Pemerintah berharap perluasan Desa Konservasi Pesut Mahakam tidak hanya menjadi upaya penyelamatan satu spesies, tetapi juga langkah darurat menghadapi krisis ekologi Sungai Mahakam.

Di tengah derasnya arus kapal dan tekanan ekonomi, Mahakam kini berada di persimpangan: dipulihkan bersama, atau kehilangan pesut—dan keseimbangan ekosistemnya—untuk selamanya. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version