Riset
Beranda / Riset / Krisis Iklim Gerogoti Masa Depan Penyu

Krisis Iklim Gerogoti Masa Depan Penyu

Penyu saat bertelur di pantai. Arsip

JAKARTA – Krisis iklim tak hanya memanaskan bumi, tetapi juga diam-diam menggerogoti masa depan penyu laut.

Studi terbaru mengungkap, penyu kini memang bertelur lebih awal akibat suhu laut yang menghangat. Namun ironisnya, jumlah telur yang dihasilkan justru semakin sedikit.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Animals dan dilaporkan oleh Phys.org. Selama 17 tahun, peneliti dari Queen Mary University of London bersama LSM Associação Projeto Biodiversidade mempelajari populasi penyu tempayan (loggerhead turtle) yang bersarang di Cabo Verde, gugusan pulau di lepas pantai barat Afrika.

Penyu Datang Lebih Cepat, Tapi Energinya Terkuras

Pemanasan suhu permukaan laut membuat penyu betina tiba di pantai dan bertelur lebih awal dari biasanya. Bahkan, interval antara satu peneluran ke peneluran berikutnya menjadi lebih singkat karena suhu hangat mempercepat perkembangan telur.

“Penyu menyesuaikan waktu perkembangbiakan mereka dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kemampuan fleksibilitas yang luar biasa,” ujar Fitra Nugraha dari Queen Mary University of London, seperti dikutip dari Phys.org, Jumat (20/2/2026).

Studi: 1 Hektar Hutan Tropis = 2,4 Juta Liter Hujan

Namun, kabar baik itu hanya setengah cerita.

Di balik percepatan waktu bertelur, terjadi krisis yang lebih senyap di laut lepas. Produktivitas laut di wilayah Afrika Barat—tempat penyu mencari makan—menurun drastis akibat perubahan iklim. Rantai makanan terganggu, ketersediaan nutrisi menyusut, dan cadangan energi penyu betina terkuras.

Akibatnya, interval migrasi reproduksi meningkat tajam. Jika sebelumnya penyu kembali bertelur setiap dua tahun, kini mereka membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk kembali ke pantai. Saat kembali pun, jumlah telur yang dihasilkan lebih sedikit, bahkan telur per sarang juga menurun.

“Dari pantai, semuanya tampak seperti keberhasilan konservasi—lebih banyak sarang, peneluran lebih awal, aktivitas tinggi. Namun ketika Anda mengikuti individu selama bertahun-tahun, gambaran yang lebih kompleks muncul. Penyu bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit,” kata Kirsten Fairweather, koordinator ilmiah Associação Projeto Biodiversidade.

Bahaya Tersembunyi di Balik Adaptasi

Secara kasatmata, perubahan ini terlihat sebagai bentuk adaptasi alami. Tetapi ilmuwan memperingatkan adanya “bahaya tersembunyi”.

Bencana Iklim di Pakistan: 7,5 Juta Rakyat Terjebak Krisis Kelaparan Akut

Krisis iklim memengaruhi penyu melalui dua jalur sekaligus:

– Pemanasan laut mengubah waktu reproduksi.
– Penurunan produktivitas laut menggerus kapasitas reproduksi jangka panjang.
– Penyu adalah satwa yang sangat bergantung pada cadangan energi. Mereka mencari makan bertahun-tahun di laut sebelum kembali ke pantai untuk berkembang biak. Jika sumber energi melemah, maka seluruh siklus reproduksi ikut terdampak.

Konservasi Tak Bisa Hanya di Pantai

Cabo Verde sendiri menjadi rumah bagi puluhan ribu penyu tempayan betina setiap tahunnya. Namun penelitian ini menegaskan bahwa melindungi sarang di pantai saja tidak cukup.

Strategi konservasi harus meluas hingga:

– Melindungi habitat mencari makan di laut lepas
– Mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut
– Memitigasi dampak perubahan iklim global

Lindungi Pesisir, Tanggul Penahan Gelombang Disulap Jadi Energi Listrik

Studi ini menjadi pengingat keras bahwa masa depan penyu tidak hanya bergantung pada kemampuan adaptasi mereka, tetapi juga pada seberapa cepat manusia menyesuaikan kebijakan konservasi dengan realitas krisis iklim.

Krisis iklim kini mengubah kehidupan di bumi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak spesies dipaksa menggeser wilayah jelajah, mengubah rute migrasi, bahkan berkembang biak lebih awal demi bertahan hidup. Namun adaptasi tidak selalu berarti keselamatan.

Di balik pantai yang tampak ramai oleh sarang penyu, ancaman kepunahan perlahan mengintai. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *