JAKARTA – Dunia berada di ambang krisis pangan yang semakin dalam. Harga pangan melonjak, pendapatan petani menyusut, dan hingga 720 juta orang dilaporkan menghadapi kelaparan tahun lalu.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 2,3 miliar orang mengalami kerawanan pangan sedang hingga berat pada 2024, sementara kelaparan kronis meningkat 96 juta orang dibandingkan 2015.
Dalam situasi genting ini, forum tingkat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan perombakan total sistem agrifood global—rantai panjang dari produksi pertanian dan perikanan, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan.
Seruan itu mengemuka dalam pertemuan khusus di New York yang dipimpin Presiden United Nations Economic and Social Council (ECOSOC), Lok Bahadur Thapa pada 16 Februari 2026.
“Sistem agrifood adalah jantung kemajuan masyarakat kita. Ia menjadi benang merah yang menghubungkan pilar lingkungan, sosial, dan ekonomi pembangunan berkelanjutan,” tegas Thapa.
Sistem Pangan: Tulang Punggung Ekonomi Global
Sektor pangan dan pertanian menopang 39 persen tenaga kerja global, bahkan mencapai 64 persen lapangan kerja di Afrika. Artinya, transformasi sistem agrifood tidak sebatas isu ketahanan pangan, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, kesehatan publik, perdagangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut estimasi PBB, reformasi sistem agrifood dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial antara US$5 triliun hingga US$10 triliun, mencakup peningkatan kesehatan, pertumbuhan ekonomi, serta perlindungan lingkungan.
Dengan proyeksi peningkatan populasi muda dunia sebesar 7 persen pada 2030, keterlibatan generasi muda dinilai krusial agar transformasi sistem pangan menjadi inklusif dan berkelanjutan.
Momen Kritis: PBB Desak Aksi Nyata
Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Amina Mohammed, menyebut pertemuan ini berlangsung di “momen yang sangat menentukan”.
“Kelaparan masih berada pada tingkat yang tidak dapat diterima. Ruang fiskal negara-negara semakin menyempit, sementara tekanan terhadap sistem agrifood terus meningkat,” ujarnya.
Sejak Konferensi Sistem Pangan PBB 2021, sebanyak 130 negara telah menyusun peta jalan nasional untuk mereformasi cara produksi dan distribusi pangan. Namun, menurutnya, ambisi tersebut kini harus diwujudkan dalam aksi konkret.
Transformasi sistem pangan harus didukung pembiayaan yang selaras dengan prioritas nasional serta percepatan implementasi di wilayah paling rentan agar tidak ada satu pun yang tertinggal.
2026: Tahun Perempuan Petani Dunia
Tahun 2026 ditetapkan sebagai Tahun Internasional Perempuan Petani. Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa perempuan petani memainkan peran vital dalam ketahanan pangan global.
“Menutup kesenjangan gender bukan hanya soal keadilan, tetapi juga kunci untuk menghasilkan dampak yang lebih baik bagi semua,” tegas Amina Mohammed.
Digitalisasi, inovasi teknologi, dan sistem data menjadi fokus utama diskusi. Teknologi dinilai mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja layak, serta memperkuat ketahanan terhadap guncangan iklim dan disrupsi pasar.
Mesin Penggerak Target SDGs
PBB menekankan bahwa reformasi sistem agrifood dapat menjadi mesin utama percepatan pencapaian United Nations dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Transformasi ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan global. Tanpa perubahan sistemik, dunia berisiko menghadapi krisis pangan yang lebih luas, ketimpangan sosial yang makin tajam, serta ancaman lingkungan yang kian serius.
Pertanyaannya kini: apakah negara-negara siap mengubah ambisi menjadi aksi nyata sebelum krisis ini semakin tak terkendali? (TR Network)
