JENEWA – Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan bahwa fenomena La Niña yang lemah saat ini mulai memudar dan berpotensi beralih ke fase netral ENSO dalam beberapa bulan ke depan.
Namun yang lebih mengkhawatirkan, peluang munculnya El Niño pada paruh kedua 2026 terus meningkat.
Dalam pembaruan resmi per 3 Maret 2026, WMO menyebut kondisi ENSO (El Niño-Southern Oscillation) diperkirakan berada pada fase netral—bukan El Niño maupun La Niña—dengan probabilitas sekitar 60% untuk periode Maret–Mei 2026, dan meningkat menjadi 70% pada April–Juni.
Namun memasuki periode Mei–Juli 2026, peluang kondisi netral turun ke 60%, sementara kemungkinan munculnya El Niño melonjak hingga sekitar 40%.
Transisi Iklim Global: Dari Pendinginan ke Pemanasan
El Niño merujuk pada pemanasan suhu permukaan laut secara berkala di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur khatulistiwa. Fenomena ini memicu perubahan besar dalam sirkulasi atmosfer tropis, termasuk pola angin, tekanan udara, dan curah hujan.
Sebaliknya, La Niña biasanya membawa efek yang berlawanan—pendinginan suhu laut yang sering dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di beberapa wilayah, termasuk Indonesia.
Peralihan dari La Niña menuju fase netral memang lazim terjadi. Namun potensi transisi cepat ke El Niño menjadi perhatian serius karena dapat memicu:
– Gelombang panas ekstrem
– Kekeringan panjang
– Gangguan pola hujan global
– Risiko gagal panen dan krisis pangan
Apa Artinya bagi Indonesia dan Dunia?
Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia sangat rentan terhadap dinamika ENSO. Dalam sejarahnya, fase El Niño kuat sering berujung pada kemarau panjang, kebakaran hutan, hingga krisis air bersih.
Sementara itu, secara global, El Niño kerap memperburuk tren pemanasan akibat perubahan iklim. Jika 2026 benar-benar memasuki fase El Niño, suhu rata-rata global berpotensi kembali mencetak rekor baru.
WMO menegaskan bahwa situasi masih dinamis dan akan terus dipantau oleh pusat-pusat produksi iklim global. Namun sinyal pergeseran dari pendinginan ke pemanasan sudah mulai terlihat jelas.
Dunia dalam Fase Rentan
Transisi ENSO kali ini terjadi di tengah suhu laut global yang masih berada di atas rata-rata historis. Kombinasi antara pemanasan jangka panjang dan potensi El Niño dapat memperparah dampak ekstrem cuaca.
Peringatan dini telah disampaikan. Kini, kesiapsiagaan pemerintah dan sektor strategis menjadi kunci untuk memitigasi risiko.
La Niña memang mereda. Tapi ancaman panas ekstrem belum benar-benar pergi—ia hanya berganti wajah. (TR Network)


Komentar