Site icon Tropis.id

Laut Dijarah, Konsumen Ditipu: FAO Bongkar Praktik Culas di Industri Ikan Senilai Rp3.120 Triliun

Potret pasar ikan yang ditelusuri oleh tim FAO di salah satu negara. Foto: FAO

ROMA – Industri perikanan dan akuakultur global bernilai US$195 miliar atau setara Rp3.120 Triliun tengah menghadapi sorotan tajam.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengungkap praktik kecurangan (fish fraud) yang meluas di berbagai negara—mulai dari restoran, pasar tradisional, hingga rantai ritel modern.

Dalam laporan terbaru berjudul Food Fraud in the Fisheries and Aquaculture Sector, yang dirilis 10 Februari 2026, FAO memperingatkan bahwa sekitar 20 persen perdagangan seafood dunia diduga terpapar berbagai bentuk penipuan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas pangan lain seperti daging serta buah dan sayuran.

Laporan tersebut disusun oleh Divisi Perikanan dan Akuakultur FAO bekerja sama dengan Joint FAO/IAEA Centre of Nuclear Techniques in Food and Agriculture, yang menyoroti kompleksitas modus kecurangan sekaligus teknologi mutakhir untuk mendeteksinya.

Ragam Modus: Dari Label Palsu hingga Manipulasi Asal

FAO mendefinisikan fish fraud sebagai praktik sengaja untuk menipu pihak lain demi keuntungan ekonomi.

Makkah Bertransformasi Jadi Kota Hijau

Bentuknya beragam, antara lain:

Substitusi spesies: Tilapia dijual sebagai kakap merah.
Mislabeling: Klaim palsu tentang keberlanjutan atau asal tangkapan.
Adulterasi: Penambahan pewarna agar tuna tampak lebih segar.
Counterfeit: Udang imitasi berbahan pati.
Simulation: Surimi dikemas seolah-olah daging kepiting asli.
Overrun dan overfishing: Hasil tangkapan melebihi kuota disamarkan.
– Penambahan air untuk meningkatkan berat dan harga jual.

Studi di berbagai belahan dunia menunjukkan hingga 30 persen produk seafood di restoran salah label.

Di Amerika Serikat, misalnya, kurang dari 1 persen impor seafood yang diuji, sementara sepertiga produk akuatik yang beredar diduga tidak sesuai dengan informasi pada kemasan.

Ancaman Kesehatan dan Keberlanjutan Laut

Praktik semacam ini tentu bukan hanya pelanggaran etik bisnis. FAO menegaskan adanya risiko nyata terhadap:
– Kesehatan konsumen, terutama jika produk dibekukan ulang atau dikonsumsi mentah tanpa informasi yang benar.
– Keberlanjutan stok ikan, ketika hasil tangkapan ilegal atau di luar kuota disamarkan asal-usulnya.
– Stabilitas ekonomi, karena distorsi harga dan persaingan tidak sehat.

Ekonomi Rendah Karbon: Kekuatan Baru Indonesia Kuasai Asia Tenggara

Motif ekonomi menjadi pendorong utama. Menjual salmon Atlantik budidaya sebagai salmon Pasifik tangkapan liar dapat memberikan tambahan keuntungan hampir US$10 per kilogram.

Seabass budidaya yang diklaim sebagai produk lokal Italia bahkan bisa dijual dua hingga tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan produk asal Yunani atau Turki.

Teknologi Jadi Senjata Melawan Fish Fraud

Menghadapi kompleksitas ini, FAO mendorong pemanfaatan teknologi ilmiah untuk memperkuat pengawasan, seperti:

– DNA barcoding untuk memastikan identitas spesies.
– Analisis isotop karbon dan nitrogen guna menelusuri asal geografis.
Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR).
Portable X-ray fluorescence.
– Model machine learning untuk mendukung sistem pengawasan modern.

Sebuah inisiatif di Los Angeles yang melibatkan akademisi, industri, dan pemerintah berhasil menekan praktik salah label hingga dua pertiga dalam satu dekade melalui edukasi publik dan pengujian acak berkelanjutan.

Zero Waste Wajib untuk Hotel dan Tempat Wisata di Bandung

Dorongan Standar Global dan Ketelusuran Wajib

FAO merekomendasikan harmonisasi aturan pelabelan internasional, termasuk kewajiban mencantumkan nama ilmiah spesies serta penguatan sistem traceability.

Bersama Komisi Codex Alimentarius, FAO tengah menyusun standar global untuk memerangi kecurangan pangan.

Dengan lebih dari 12.000 spesies seafood diperdagangkan secara global, transparansi rantai pasok dan pengawasan berbasis sains dinilai menjadi kunci untuk melindungi konsumen sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut dunia.

Laporan ini menjadi peringatan keras: ketika laut dijarah dan label dimanipulasi, yang dirugikan bukan hanya ekosistem—tetapi juga miliaran konsumen di seluruh dunia. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version