JAKARTA – Ancaman abrasi, banjir rob, kenaikan muka air laut, hingga keterbatasan lahan terus membayangi wilayah pesisir Indonesia.
Selama ini, pembangunan tanggul umumnya menggunakan tipe urugan (earth-fill dam) dengan timbunan pasir dan batu dalam jumlah besar. Meski andal, model ini memerlukan lahan luas serta berdampak pada lingkungan akibat eksploitasi material dari gunung maupun laut.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF), inovasi tanggul laut yang tak hanya menahan gelombang, tetapi juga mampu menghasilkan listrik dari energi laut.
Perekayasa Ahli Madya BRIN, Dinar Catur Istiyanto, menjelaskan pengembangan TTMF berangkat dari kebutuhan akan alternatif desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur, tetapi tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap lingkungan.
“Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Desain Tegak, Lebih Ramping dan Efisien
TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak (vertical seawall) berbasis beton bertulang menggunakan sistem blok modular (caisson). Blok-blok tersebut diproduksi di darat dengan berat sekitar 60 ton—menyesuaikan kapasitas crane nasional—kemudian dirakit di lokasi proyek.
Pendekatan modular ini membuat proses konstruksi lebih cepat dan fleksibel. Lebar tanggul bahkan dapat disesuaikan hanya 10–20 meter jika difungsikan sebagai pendukung jalan raya.
Model ini dinilai sangat relevan untuk kawasan padat seperti Pantai Utara Jawa (Pantura) yang menghadapi tekanan ruang dan risiko banjir rob.
Gelombang Diubah Jadi Energi
Keunggulan utama TTMF terletak pada integrasi sistem penangkap energi gelombang tipe Oscillating Water Column (OWC).
Dalam sistem ini, gelombang laut diarahkan masuk ke rongga khusus pada struktur tanggul. Pergerakan air akibat gelombang menekan dan menghisap udara untuk memutar turbin, sehingga menghasilkan listrik.
“Artinya, energi gelombang yang selama ini hanya diredam kini dapat dikonversi menjadi sumber energi terbarukan,” jelasnya.
Generasi awal desain TTMF dengan sistem gelombang rendah bahkan telah terdaftar sebagai paten di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada 2025.
Dengan demikian, satu infrastruktur mampu menggabungkan fungsi perlindungan pantai, pengendalian banjir, transportasi, dan pembangkit energi sekaligus.
Dukung Net Zero dan Industri Nasional
Dari sisi material, TTMF mengacu pada standar SNI bangunan air dan pantai. BRIN juga mengembangkan alternatif material ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah industri seperti slag besi, slag nikel, dan fly ash batu bara sebagai substitusi sebagian bahan konstruksi.
“Sebagian besar limbah industri itu sebenarnya tidak berbahaya, tetapi menjadi masalah jika hanya ditumpuk. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pasir atau sebagian semen, maka dampak lingkungannya jauh lebih kecil,” terang Dinar.
Pendekatan ini mendukung agenda net zero carbon emission sekaligus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang diproyeksikan mencapai lebih dari 70 persen.
Butuh Dukungan Kebijakan
Meski menjanjikan, implementasi TTMF tetap memerlukan kesiapan teknis, terutama daya dukung tanah minimum (NSPT sekitar 15). Di wilayah dengan tanah lunak, diperlukan teknologi perbaikan tanah sebelum pembangunan.
BRIN menegaskan bahwa inovasi rekayasa berskala besar membutuhkan dukungan pendanaan dan kebijakan untuk membangun demonstration plot di kondisi nyata.
“Kalau teknologi ini mau naik ke tingkat kesiapan tinggi, harus diuji di lapangan. Itu tidak mungkin dibiayai hanya dari anggaran riset. Perlu skema top-down agar riset inline dengan kebutuhan pembangunan nasional,” urainya.
Jika terhubung dengan proyek strategis nasional, TTMF berpotensi menjadi solusi konkret perlindungan pesisir sekaligus bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim Indonesia. (TR Network)


Komentar