News
Beranda / News / Lubang Raksasa di Aceh Bukan Sinkhole, Ini Fakta Geologinya

Lubang Raksasa di Aceh Bukan Sinkhole, Ini Fakta Geologinya

Lubang raksasa yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Arsip

JAKARTA – Fenomena lubang raksasa yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, memicu kepanikan warga. Banyak yang menduga peristiwa ini sebagai sinkhole seperti yang pernah terjadi di sejumlah daerah lain.

Namun peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluruskan: ini bukan sinkhole.

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan bahwa lubang besar tersebut merupakan fenomena longsoran yang berkembang secara bertahap, bukan amblesan akibat pelarutan batu gamping.

Bukan Sinkhole, Tapi Longsoran Batuan Vulkanik Muda

Menurut Adrin, secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping—material yang lazim memicu sinkhole—melainkan oleh endapan piroklastik berupa tufa hasil aktivitas vulkanik Gunung Geurendong yang kini sudah tidak aktif.

Material tufa tersebut tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna. Sifatnya rapuh, berpori, dan mudah runtuh ketika jenuh air.

Rob Mengganas di Pesisir Tangerang: 521 Keluarga Tanjung Pasir Terkepung Air Laut

“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin, Jumat (20/2/2026).

Proses Alamiah yang Berlangsung Lama

Dari analisis citra satelit Google Earth sejak 2010, kawasan itu sebenarnya telah memperlihatkan adanya lembah kecil atau ngarai.

Proses erosi dan longsoran yang berlangsung bertahun-tahun membuat lembah tersebut semakin melebar dan memanjang, hingga kini tampak sebagai lubang besar.

Fenomena ini tidak terjadi secara mendadak. Ia merupakan hasil proses geomorfologi yang bisa berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun. Gempa dan hujan hanya mempercepat ketidakstabilan yang sudah ada.

Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo pada 2013 di Aceh Tengah diduga turut memperlemah struktur lereng. Getaran gempa berpotensi menciptakan retakan mikro yang kemudian berkembang menjadi bidang longsor aktif.

Citarum Meluap Lagi, Karawang Tenggelam di Tengah Ibadah Puasa

Hujan dan Irigasi Perkebunan Jadi Pemicu

Selain faktor geologi dan gempa, hujan lebat menjadi pemicu utama percepatan longsor. Batuan tufa yang rapuh sangat mudah menyerap air. Ketika jenuh, daya ikat antarpartikel melemah drastis sehingga runtuh lebih mudah terjadi.

Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan juga disebut berkontribusi memperparah kondisi. Aliran air yang terus meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembapan lapisan tufa dan mempercepat pelapukan.

“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ujar Adrin.

Ia juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan lahar yang lebih padat di dasar tebing dan batu tufa rapuh di atasnya. Penggerusan di kaki lereng menyebabkan bagian atas kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

Mirip Proses Pembentukan Ngarai Sianok

Adrin menambahkan, kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain dengan karakter batuan vulkanik muda. Salah satu contohnya adalah Ngarai Sianok di Sumatera Barat, yang terbentuk melalui proses geologi panjang dan berkaitan dengan aktivitas Sesar Besar Sumatera.

UI GreenMetric 2026 Ubah Peta Persaingan Kampus Dunia

Artinya, lubang raksasa di Aceh Tengah merupakan bagian dari dinamika alamiah bentang lahan vulkanik—bukan fenomena anomali mendadak.

Perlu Survei Geofisika dan Mitigasi Serius

BRIN mengakui belum melakukan penelitian lapangan langsung dan masih menganalisis berdasarkan data citra serta informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail, diperlukan penelitian komprehensif.

Metode yang bisa digunakan antara lain: Survei geolistrik, Seismik refleksi, hingga Microtremor.

Teknik ini penting untuk memetakan struktur bawah permukaan, mendeteksi potensi rekahan, serta memahami faktor yang membuat lereng menjadi sangat rentan longsor.

Adrin juga menekankan urgensi mitigasi, terutama:

– Pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah
– Penetapan zona bahaya di sekitar lokasi
– Pemasangan sistem peringatan dini longsor

Masyarakat diimbau waspada terhadap tanda awal seperti retakan tanah, amblesan kecil, atau perubahan kontur permukaan.

“Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional. Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” pungkasnya.

Fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah ini menjadi pengingat keras bahwa kawasan dengan batuan vulkanik muda memiliki kerentanan tinggi terhadap longsor—terutama jika diperparah oleh aktivitas manusia dan perubahan tata air. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *