Riset
Beranda / Riset / Mengapa Kapal di Indonesia Boros BBM dan tidak Bebas Emisi Karbon?

Mengapa Kapal di Indonesia Boros BBM dan tidak Bebas Emisi Karbon?

ILUSTRASI: lonjakan emisi akibat hambatan lambung kapal dan korosi baja di lingkungan laut ekstrem.

SERPONG – Peneliti Indonesia dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan inovasi lapisan anti-fouling untuk menjawab tantangan besar industri maritim: lonjakan emisi akibat hambatan lambung kapal dan korosi baja di lingkungan laut ekstrem.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Metalurgi BRIN, Yulinda Lestari, mengembangkan lapisan komposit keramik berbasis mineral lokal guna melindungi baja karbon rendah yang banyak digunakan pada kapal dan struktur lepas pantai.

Biofouling, Pemicu Emisi yang Sering Terabaikan

Yulinda menjelaskan, biofouling—menempelnya organisme laut seperti teritip dan alga pada lambung kapal—meningkatkan hambatan gesek secara signifikan.

Dampaknya, konsumsi bahan bakar membengkak, biaya operasional naik, dan emisi karbon ikut terdorong.

“Karena itu, diperlukan solusi lapisan antifouling yang efektif sekaligus ramah lingkungan,” ujarnya dalam Webinar ORNAMAT ke-81, Selasa (24/2/2026).

Alarm Ekologi di Bali: Tanah Mangrove Benoa Tercemar Senyawa Minyak

Masalah ini tidak hanya dipandang sebagai isu teknis perawatan kapal. Dalam konteks pelayaran modern dan agenda dekarbonisasi global, efisiensi energi menjadi faktor kunci daya saing industri maritim.

Minim Bahan Beracun, Maksimal Proteksi

Berbeda dari pelapis konvensional yang kerap mengandung zat berbahaya bagi ekosistem laut, inovasi BRIN dirancang dengan pendekatan material maju yang meminimalkan penggunaan bahan beracun.

Lapisan komposit keramik tersebut memiliki sejumlah keunggulan:

– Ketahanan korosi tinggi pada suhu dan salinitas ekstrem
– Daya hambat pertumbuhan organisme laut
– Daya lekat kuat dan umur pakai lebih panjang
– Lebih aman bagi lingkungan perairan

Pendekatan ini menegaskan komitmen riset nasional dalam mengintegrasikan performa industri dan prinsip keberlanjutan.

Indonesia Darurat Merkuri: Tambang Emas Rakyat Sumber Utama Emisi

Dukung Kemandirian Teknologi Maritim

Hasil uji awal menunjukkan performa proteksi yang menjanjikan dan berpotensi diterapkan pada berbagai struktur maritim, mulai dari kapal niaga hingga instalasi lepas pantai.

Riset ini diharapkan memperkuat kemandirian teknologi pelapisan dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, serta mendorong efisiensi energi dan penurunan emisi di sektor kelautan.

Inovasi ini menjadi bukti bahwa riset material Indonesia tidak hanya fokus pada ketahanan baja, tetapi juga pada masa depan pelayaran yang lebih hemat energi, rendah emisi, dan ramah lingkungan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Bumi Makin Membara: Ulah Manusia Lampaui Dampak Bencana Alam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *