News
Beranda / News / Pulau Jawa di Ambang Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Masuk Zona Bahaya

Pulau Jawa di Ambang Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Masuk Zona Bahaya

Sungai Jatiluhur, salah satu sumber air di Pulau Jawa termasuk Jakarta yang kini menghadapi ancaman krisis. Foto Arsip

JAKARTA — Ancaman krisis air mulai menghantui Pulau Jawa.

Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas memperingatkan bahwa sejumlah wilayah di pulau terpadat di Indonesia itu menghadapi tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih.

Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian PPN/Bappenas Dadang Jainal Mutaqin menyebutkan, secara nasional Indonesia sebenarnya masih memiliki cadangan air yang relatif aman.

Namun, jika dilihat per wilayah, ketimpangan ketersediaan air sangat terlihat.

“Indonesia secara rata-rata masih aman. Tetapi jika dilihat per pulau atau per wilayah, yang paling banyak mengalami kekurangan air adalah Pulau Jawa,” ujar Dadang, Sabtu (14/3/2026).

Indonesia Punya Harta Karun Karbon Biru, Nilainya Rp33 Triliun per Tahun

Jakarta dan Jawa Timur Jadi Titik Kritis

Bappenas menyoroti Jakarta dan Jawa Timur sebagai wilayah yang menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air. Selain itu, beberapa daerah di Jawa Barat juga mulai mengalami tekanan yang sama.

Tidak hanya di Pulau Jawa, pemerintah juga memberi perhatian pada beberapa kota besar di luar Jawa seperti Medan (Sumatera Utara) dan Makassar (Sulawesi Selatan) yang mulai menghadapi risiko serupa.

Mengapa Krisis Air Mengancam?

Ada beberapa faktor utama yang mendorong ancaman krisis air di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2021, ketersediaan air Indonesia mencapai sekitar 3,9 miliar meter kubik per tahun. Namun sekitar 80 persen dari total air tersebut digunakan untuk sektor pertanian dan irigasi.

Di sisi lain, kebutuhan air diperkirakan akan melonjak drastis dalam dua dekade ke depan.

Siklon Tropis Makin Ganas, Dunia Dipaksa Berpacu Selamatkan Nyawa

Bappenas memperkirakan permintaan air akan meningkat hingga 31 persen pada 2045, seiring pertumbuhan penduduk dan ekspansi sektor industri yang bisa meningkatkan kebutuhan air hingga empat kali lipat.

Ancaman lain datang dari pengambilan air tanah secara berlebihan yang memicu penurunan muka tanah, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.

Selain itu, sekitar 12,7 juta hektar lahan kritis di Indonesia juga memperburuk kondisi sumber daya air karena menurunkan kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.

Strategi Pemerintah Menghadapi Krisis

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah mulai memperkuat berbagai langkah konservasi sumber daya air.

Upaya yang dilakukan antara lain: mengendalikan pencemaran air, menjaga kualitas sumber air, menjalankan program swasembada air melalui konservasi daerah aliran sungai (DAS), melakukan rehabilitasi hutan dan lahan, membangun bendungan multifungsi, serta memperbaiki sistem irigasi nasional.

Saat Dunia Cari Solusi Iklim: Penggembala Tradisional Jawabannya

Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga ketahanan air nasional di tengah tekanan perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan ekspansi industri yang terus meningkat.

Namun para ahli mengingatkan, tanpa perubahan perilaku penggunaan air serta pengelolaan lingkungan yang lebih ketat, Pulau Jawa berisiko menghadapi krisis air yang semakin serius dalam beberapa dekade ke depan. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *