Site icon Tropis.id

Rahasia Leluhur Ternate: Situs Jere, Warisan Megalitik yang Menyimpan Misteri Gunung Gamalama

Gunung Gamalama di Ternate, Maluku Utara. Arsip

TERNATE – Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan tentang peninggalan megalitik di Pulau Ternate.

Situs-situs batu kuno yang dikenal sebagai Jere ternyata tidak dibangun secara sembarangan. Leluhur masyarakat Ternate diduga telah memahami kondisi geologi dan potensi bencana Gunung Gamalama saat menentukan lokasi situs-situs sakral tersebut.

Studi yang dipimpin peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Chusni Ansori, meneliti hubungan antara sebaran situs Jere dengan kondisi geologi di kawasan Ternate Aspiring National Geopark di Maluku Utara.

Penelitian ini mencoba mengungkap bagaimana masyarakat masa lalu berinteraksi sekaligus beradaptasi dengan lingkungan pulau vulkanik yang rawan bencana.

“Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penempatan situs budaya megalitik di Pulau Ternate mempertimbangkan kondisi alam, terutama parameter sumber daya dan bencana geologi seperti bahaya gunung api, potensi air tanah, air permukaan atau jarak dari sungai, serta geomorfologi,” jelas Chusni, dikutip Kamis (12/3/2026).

Eksperimen Berani: 65.000 Liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Melawan Krisis Iklim

Situs Jere Menyebar di Pulau Vulkanik

Pulau Ternate merupakan pulau vulkanik yang didominasi oleh Gunung Gamalama, salah satu gunung api aktif di Indonesia. Di pulau ini tersebar peninggalan megalitik berupa menhir dan monolit yang oleh masyarakat setempat disebut Jere.

Hingga kini, situs-situs tersebut masih dianggap sakral dan sering menjadi lokasi ziarah serta ritual adat.

Hasil survei lapangan menunjukkan sedikitnya 56 lokasi situs megalitik tersebar di Pulau Ternate. Menariknya, sebagian besar situs berada di wilayah berketinggian rendah dan dekat dengan sumber air.

Analisis tim peneliti menunjukkan sekitar 37,49 persen situs berada pada ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut.

Banyak situs juga ditemukan di kawasan kaki gunung dan lereng bawah Gunung Gamalama, wilayah yang relatif lebih aman dibandingkan area yang lebih tinggi dan rentan terkena dampak erupsi.

Mikroba Laut Dalam Bisa Menyelamatkan Bumi dari Krisis Iklim

“Distribusi ini menunjukkan adanya pola pemilihan lokasi yang berkaitan dengan keamanan lingkungan dan kemudahan akses terhadap sumber daya alam,” ujar Chusni.

Tiga Faktor Alam Penentu Lokasi

Penelitian ini menggunakan pendekatan spatial geoarchaeology, yang memadukan kajian arkeologi dan geologi.

Metode yang digunakan meliputi survei lapangan, analisis geokimia batuan dengan XRF, pemodelan elevasi digital, hingga analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (GIS) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).

Dari tujuh parameter geologi yang dianalisis, penelitian menemukan tiga faktor utama yang paling menentukan lokasi situs Jere.

Faktor pertama adalah bahaya erupsi gunung api dengan tingkat pengaruh sekitar 37,97 persen. Sebagian besar situs ternyata berada di luar zona bahaya erupsi.

Darurat Laut Dunia: 36 Persen Terumbu Karang Terancam Hilang

Faktor kedua adalah jarak dari sungai dengan pengaruh 25,75 persen. Mayoritas situs berada kurang dari 250 meter dari aliran sungai, menunjukkan pentingnya akses air bagi masyarakat masa lalu.

Faktor ketiga adalah geomorfologi, terutama wilayah kaki gunung yang memiliki relief lebih landai dengan pengaruh sekitar 13,78 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki pengetahuan lingkungan yang baik dalam memilih lokasi yang relatif aman dari bencana namun tetap dekat dengan sumber air,” kata Chusni.

Bukti Kuat Hubungan Budaya dan Alam

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa budaya masyarakat Ternate sangat erat terkait dengan lanskap geologi di sekitarnya.

Situs Jere tidak hanya berfungsi sebagai simbol spiritual, tetapi juga mencerminkan strategi adaptasi manusia terhadap lingkungan vulkanik.

Hingga sekarang, situs-situs tersebut masih menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Ternate.

Dalam ritual adat Kololi Kie, masyarakat mengunjungi sejumlah situs Jere untuk memanjatkan doa keselamatan dari ancaman erupsi Gunung Gamalama.

“Keberadaan Jere mencerminkan hubungan erat antara kepercayaan masyarakat dengan lingkungan alamnya, khususnya gunung api yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka,” tutur Chusni.

Penting bagi Pengembangan Geopark

Temuan ini juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan Ternate Aspiring National Geopark.

Dalam konsep geopark, kekayaan geologi tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan biodiversitas dan budaya masyarakat setempat.

Pemahaman tentang hubungan antara situs budaya dan kondisi geologi diharapkan dapat memperkuat pengelolaan geopark secara terintegrasi, mulai dari konservasi, pendidikan, hingga pengembangan ekonomi lokal melalui geowisata.

“Pendekatan spasial geoarkeologi dapat membantu menjelaskan bagaimana manusia masa lalu membangun hubungan dengan lingkungannya, sekaligus menjadi dasar penting dalam pengelolaan warisan geologi dan budaya di masa depan,” pungkas Chusni. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Exit mobile version