Iklim
Beranda / Iklim / Ramadhan Jadi Titik Balik Iklim: Ubah Menu Berbuka, Selamatkan Bumi

Ramadhan Jadi Titik Balik Iklim: Ubah Menu Berbuka, Selamatkan Bumi

Menu buka puasa ramah lingkungan. Arsip

JAKARTA — Sektor pangan menyumbang hampir sepertiga emisi gas rumah kaca global, sementara pola konsumsi masyarakat Indonesia masih bertumpu pada satu komoditas utama. Kombinasi ini memperbesar risiko krisis iklim sekaligus krisis gizi nasional.

Di tengah ancaman pemanasan global yang kian nyata, Ramadhan menjadi momentum strategis untuk memulai koreksi besar dari dapur rumah tangga.

Indonesia menghadapi tantangan serius dalam merombak sistem pangan. Ketergantungan pada beras dan meningkatnya impor pangan tidak hanya melemahkan ketahanan pangan, tetapi juga memperpanjang rantai distribusi yang berdampak pada peningkatan jejak karbon.

Jika tidak diubah, pola konsumsi ini berpotensi memperparah krisis iklim dan memperdalam persoalan gizi masyarakat.

Krisis Iklim dan Sistem Pangan Global

Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2025 mencatat satu dari sepuluh penduduk dunia masih mengalami kekurangan gizi.

Krisis Iklim: 17 Wilayah Koloni Terancam Tenggelam

Ironisnya, satu dari empat orang justru mengalami kelebihan berat badan. Ketimpangan ini menunjukkan sistem pangan global belum mampu menghadirkan distribusi makanan sehat yang adil dan berkelanjutan.

Secara ekologis, sektor pangan menyumbang sekitar 30 persen total emisi gas rumah kaca dunia. Kontribusi ini berasal dari:

– Deforestasi untuk ekspansi lahan pertanian
– Perkebunan monokultur skala besar
– Rantai pasok panjang berbasis impor
– Penggunaan pupuk dan energi fosil

Setiap tahun, sekitar 5,5 juta hektar hutan hilang, terutama di kawasan tropis seperti Indonesia. Padahal, hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang krusial dalam menekan laju perubahan iklim.

Panel ahli dari Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) bahkan menegaskan sistem pangan modern menjadi pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati, dengan sekitar satu juta spesies terancam punah.

Jawa Barat Siaga! BMKG Prediksi Hujan Lebat, Petir, dan Angin Kencang Sepekan Penuh

Indonesia dan Triple Burden of Malnutrition

Di dalam negeri, dampak sistem pangan yang tidak beragam terlihat dalam fenomena triple burden of malnutrition atau tiga beban masalah gizi: mulai dari Stunting (gizi buruk kronis), Kekurangan mikronutrien hingga Lonjakan obesitas.

Data Riset Kesehatan Dasar menunjukkan lebih dari 95 persen masyarakat Indonesia kekurangan konsumsi sayur dan buah. Pola makan masih sangat bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama, padahal produksi beras semakin rentan terhadap fluktuasi iklim seperti kekeringan dan banjir.

Ketergantungan ini tidak hanya berisiko bagi kesehatan, tetapi juga memperlemah ketahanan pangan nasional di tengah krisis iklim global.

Ramadhan dan Diversifikasi Pangan Lokal

Ramadhan menghadirkan peluang konkret untuk mendorong diversifikasi pangan lokal.

Mengurangi konsumsi tunggal berbasis beras dan memperbanyak asupan pangan nabati lokal dapat menjadi langkah nyata dalam mitigasi perubahan iklim.

Bumi Terpanggang: Data Iklim 2025 Ungkap Pemanasan Global Mendekati 1,5°C

Komoditas seperti singkong, ubi jalar, jagung, sagu, kacang-kacangan, serta aneka sayuran tradisional memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat dan protein alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Selain memperpendek rantai distribusi, pangan lokal juga mendukung ekonomi petani kecil dan menjaga keberlanjutan ekosistem.

Pola konsumsi yang lebih beragam dan berbasis tanaman terbukti memiliki jejak karbon lebih rendah dibandingkan pola makan tinggi produk olahan dan daging berlebihan.

Dari Meja Makan ke Aksi Iklim Nasional

Perubahan iklim sering dipandang sebagai isu kebijakan besar di tingkat global. Namun sejatinya, solusi juga bisa dimulai dari keputusan sederhana di rumah tangga.

Pilihan menu sahur dan berbuka selama Ramadhan dapat menjadi bagian dari gerakan nasional menekan emisi karbon sektor pangan.

Dengan menjadikan Ramadhan sebagai titik balik perubahan pola konsumsi, masyarakat dapat berkontribusi pada:

– Pengurangan emisi gas rumah kaca
– Perlindungan hutan tropis Indonesia
– Perbaikan kualitas gizi keluarga
– Penguatan ketahanan dan kedaulatan pangan

Ramadhan tahun ini bukan hanya tentang ibadah spiritual, tetapi juga momentum membangun sistem pangan Indonesia yang lebih sehat, beragam, dan berkelanjutan.

Karena menyelamatkan bumi dari pemanasan global bisa dimulai dari satu keputusan sederhana: apa yang kita pilih untuk berbuka hari ini. (TR Network)

Ikuti Whatsapp Channel TROPIS di sini

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *